
Kempat, cerpen harus tampak sungguhan. Ketiga belas cerpen ini sudah seperti sungguhan, karena semua ceritanya bersumber dari kehidupan sehari-hari. Cerpen “Asmara Gita” menarik, yaitu tentang pasangan hidup. Diceritakan Gita yang ingin “dihalalkan”. Dia merasa Rizki adalah cintanya, tapi dia tidak yakin Rizki mencintainya. Dia menanti dipinang 2 lelaki idaman lainnya, tetapi gagal. Jodoh memang misteri. Bagaimana dengan Rizki? Ini sangat kontekstual terjadi di para akhwat (mahasiswi) yang memilih menikah muda atau segera dihalalkan. Kita tahu sekarang bermunculan komunitas yang memilih hidup tanpa pacaran, segera dihalalkan. Komunitas Indonesia Tanpa Pacaran, contohnya.
Cerpen “Aina” memang berbeda sendiri, karena memiliki nilai filosofi tersembunyi. Sedangkan “Dicegat Kuntilanak” perlu diolah lagi alur dan plotnya, karena lebih cocok disebut “fiksi mini”.
Kelima, cerpen harus selesai ketika kita selesai membacanya. Nah, cerpen “Prasangka” belum selesai. Begitu juga “Dicegat Kuntilanak”, belum selesai. Sedangkan 11 cerpen yang lain bisa saya anggap selesai ceritanya.

