Diskusi internal tentang Rumah Dunia juga kami adakah di pendopo rumah. Makan-makan, hampir tiap hari. Pohon mangga memayungi. Awalnya sekitar 2000 – 2004, pendopo rumahku jadi kegiatan Rumah Dunia.

Semua bermula di sini. Tadinya ada pohon sukun di belakang pendopo. Tapi pohon sukun ditebang untuk ruang kerjaku.


Di pendopo ini ada panggung, tempat anak-anak Rumah Dunia berekspresi’ mereka menyanyi, membaca puisi, mewarna dan menggambar, serta mendengarkan dongeng. Literasi masyarakat berkembang di sini.


Kelas Menulis Rumah Dunia juga bermula di sini pada 2002. Diskusi-diskusi penting tentang kebudayaan digelorakan di sini. Pedopo rumahku serupa pusat belajar masyarakat.

Tias membuka kelas dongeng di sini. Bahkan Emakku yang baru saja wafat Selasa 19 Juli 2022 pukul 19:45 WIB, sering mendongeng kepada anak-anak kampung di sini.

Di pendopo ini orang-orang kampung datang dan pergi mengutarakan harapannya. Jika sanggup, kami membantu mencarikan jalan keluar. Jika belum mampu, kami mendo’akan semoga harapannya mendapatkan titik terang di tempat lain. Ya, pendopo bagi kami adalah literasi keluarga, tempat kami tertawa bahagia dan saling menghibur jika sedang bersedih dengan siapa saja. Jadi ruang tamu terbuka.

Sekarang panggung itu difungsikan jadi teras baca. Sedangkan panggung pindah ke areal 500 meter di seberangnya, bersatu dengan kamar-kamar relawan Rumah Dunia di sisi timur dan baratnya.

Di pendopo ini aku display semua memoribilia keluarga. Mulai dari mainan keempat anakku, sertifikat aku dan Tias Tatanka, penghargaan-penghargaan, dan tentu buku-buku. Mungkin suatu saat kamu bertamu, pasti akan aku jamu di sini.
Kamu pernah ke pendopo rumahku?


