Tentu saja bagian ijuknya di bawah. Monmaap kalau terpaksa begitu, tolong jangan dirundung, jangan pula menanyakan seberapa besar nasionalismeku. Yang penting merah-putih berhasil dikibarkan.
Setiap menjelang 17-an aku akan mendengar rencana perlombaan ini itu, yang beberapa aku ikuti saat kecil. Pernah pada tahun tertentu aku ikut beberapa lomba dan menjuarai setiap jenisnya. Aku serius kalau ikut lomba, termasuk memperhitungkan jarak, kemungkinan, dan tak lupa selalu “ngambis”.

Saat lomba makan kerupuk, aku akan perkirakan bagian kerupuk yang kuhabiskan lebih dulu agar area kerupuk yang terkait tali menjadi sasaran terakhir. You know, hampir selalu ada satu aktor intelektual di lomba jenis ini di mana pun. Pelaku yang mengincar keberhasilan anak-anak yang hampir mencapai kemenangan.

Entah berapa kali aku melihat anak-anak kecil menangis karena usahanya menuju puncak berakhir sia-sia ketika si aktor menyentakkan tali dan membuat sisa kerupuk berjatuhan. Diskualifikasi meskipun peserta menghabiskan lebih dulu sebagian besar kerupuk.
Akhirnya yang lolos adalah mereka yang lamban tapi aman. Anteng aja mereka menyelesaikan lomba dan meraih hadiah. Peserta yang terkena diskualifikasi hanya mampu menahan perih, kecewa, mungkin sedikit iri. Si aktor intelektual sudah berlalu sedari tadi sambil tertawa tanpa dosa.

Apakah aku dendam? Tidak, mungkin karena aku tidak berada di posisi peserta diskualifikasi. Tapi aku pernah melihatnya di posisi barisan peserta yang lamban. Aku tidak suka kerupuk, jadi memakannya sebagai kewajiban mengikuti lomba. Karena lamban memakannya itulah aku sering kalah.
Seringkali saat mengikuti lomba aku lebih memperhatikan tim pendukung dan tim haters di pinggir lapangan. Kesempatan bagi mereka bersorak-sorai menyaksikan tingkah lucu peserta. Sedari kecil aku rajin ikut lomba 17-an, sampai ada masa aku berhenti begitu melihat betapa bahagianya menertawakan orang lain.

Seserius itu? Ya, tapi aku ikut lagi setelah bertahun-tahun berhenti. Atas dasar solidaritas antar warga, aku ikut lomba saat sudah beranak dua. Akhirnya aku melihat kebahagiaan menertawakan pada level berbeda. Tentu aku tidak berhak menghujat tawa orang, tapi aku jadi belajar dengan skala berbeda dibanding saat kecil. Sangat tidak mengenakkan menjadi bahan tertawaan saat di usia dewasa.
Aku pikir tidak hanya lomba kerupuk, sebagian lomba 17-an memang dirancang mengundang tawa. Semakin lucu, semakin disuka, semakin femes, tak peduli semakin memalukan. Salahkah? Tentu tidak bisa asal mengadili dan pukul rata menghakiminya. Sebagian orang bilang ini cara merayakan kemerdekaan. Sebagian lagi berkata, biarkan rakyat tertawa gembira selagi bisa. Sebagian lagi gusar dan balik bertanya, dengan cara apa lagi orang-orang boleh bahagia.
Aku tidak bilang bahwa pendapatku paling benar. Kalau mau melanjutkan berbagai lomba ya, silakan saja. Aku cuma menuliskan pendapatku dengan kepala dingin.
Kalau boleh usul, jika berbagai lomba dimaksudkan untuk bergembira bersama, bagaimana kalau diselenggarakan lomba tertawa saja?
Tias Tatanka


