Nyenyembah, Salah Satu Ritus Pernikahan di Bojonegara-Banten

Biasanya setelah waktu salat ashar pengantin wanita diarak atau diiring keliling kampung. Ia dipayungi oleh saudara perempuan atau anggota keluarga dekat yang perempuan, yang membantunya agar bisa berjalan dengan baik. Di belakangnya ada orang yang memegangi gaunnya yang nyengser ke tanah.

Di rombongan belakangnya lagi, ada pengiring musik kasidah yang menyanyikan lagu-lagu bertema pernikahan dan kebahagiaan beserta orang sekampung yang mengiringi.

Arak-arakan dimulai dari rumah pengantin wanita, lalu ia dan para pengiring berjalan hingga ke ujung kampung, sementara itu, pengantin pria tetap berada di pelaminan. Para tetangga, terutama ibu-ibu, menunggu di rumah masing-masing atau di pinggir jalan kampung sambil menyiapkan amplop berisi uang. Ketika sang pengantin melewati jalan tersebut, ibu-ibu ikut rombongan.

Setelah sampai di ujung kampung atau titik yang telah ditentukan, pengantin akan kembali lagi ke tempat semula. Di sana sudah disediakan kursi dan kong, serupa bak. Pengantin pria sudah duduk manis di sana.

Setelah sepasang pengantin sudah duduk, kaki mereka akan ditutupi selembar kain. Di belakangnya, seorang ustaz atau sesepuh kampung mengangkat kedua telapak tangannya sambil merapal doa untuk keselamatan dan keberkahan pernikahan mereka. Pada saat itulah ibu-ibu yang sudah berkumpul berdesak-desakan melemparkan amplop mereka ke kong. Momen itulah yang disebut dengan nyenyembah, memberikan persembahan kepada pengantin.

Ritus ini juga bisa dikolaborasikan dengan ritus cukuran atau aqiqahan jika ada anggota keluarga pengantin yang belum melaksanakan ritus tersebut saat bayi.

Rumah Baca Bojonegara, Sabtu, 27 Agustus 2022 21:50

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==