Ina menerangkan bahwa kajian tentang hal itu tidak cukup dengan waktu yang singkat untuk menjelaskan aborsi dan melahirkan anak hasil dari pelecehan seksual. Yang jelas, boleh memilih jika hal yang paling berat resikonya maka itulah yang harus diputuskan.

Selain itu, peserta selanjutnya yang bertanya adalah Erni Kurniati selaku akademisi yang konsisten mengkaji perempuan, dia bertanya soal Arizal adalah maskulinitas dan Anisa adalah feminim, sebab di zaman sekarang ada perempuan yang memiliki jiwa maskulin dan laki-laki justru sebaliknya jadi feminim.

“Artinya bahwa laki-laki dan perempuan bisa menyanggah semuanya. Banyak wanita yang tanggung, dia bekerja dan mengurus anak bahkan dia tidak meminta kepada suami, tapi banyak laki-laki yang feminimnya lebih besar dan banyak pria yang betah di rumah,” jawab Ina.

“Tapi itu tidak apa-apa bila keduanya menyetujui, barang siapa bagi perempuan dan laki-laki yang membuat kebaikan itu akan mendapatkan pahala bukan berarti pahala laki-laki ada dua dan perempuan ada satu. Itu tidak. Mereka mendapatkan sama rata,” tambahnya.

Para peserta yang hadir, sangat antusias mendengarkan materi dari Ina Salam Febriani. Sehingga hasil dari bincang hangat tersebut, diharapkan dapat menciptakan kesadaran serta menumbuhkan minat pribadi, untuk menjaga kehormatan perempuan dan laki-laki.*
Tria Yolanda





[…] Nyenyore Rumah Dunia Gelar Diskusi Tentang Perempuan Menghadapi Kekerasan […]