Pengemis dan Konsep Sedekah Menurut Presiden Rumah Dunia Abdul Salam

“Itu karakter, Man. Susah untuk diubah,” kata Abdul Saam, Presiden Rumah Dunia 220 – 2025 dengan sungguh-sungguh. Tambah Salam, “Mengemis itu tinggal berdiam diri dan sedikit memelaskan muka dengan harapan dibelas kasihani, sedang bekerja harus mengeluarkan tenaga.”

Saya melihat bagaimana Abdul Salam bekerja keras bersama stafnya di Redez-vouz Cafe. Setip bulan Salam menyisihkan dana sekitar Rp. 500 – 700 ribu dari keuntungan cafe untuk kas Rumah Dunia. “Mengemis itu mudah, sedangkan kerja capek. Kalau mentalnya sudah terbentuk mengemis itu akan sulit dikembalikan oleh orang yang memiliki kebijakan,” tambah Salam sambil menyeuh kopi pahit.

Di luar dugaan, Salam memperlebar konsep mengemis bukan hanya dilakukan oleh orang menengah ke bawah, melainkan menengah ke atas juga melakukannya. “Contoh yang paling nyata ada politisi saat meminta suara kepada masyarakat,” kata Salam.

Dengan contoh yang demikian maka jangan harap bangsa kita akan terhindar dari mental pengemis. Dalam hal pembagian sembako, terkadang orang kaya pun ingin mendapatkan bantuan. Ya balik lagi ke konsep mengemis tadi.

Komentar Salam saya tanggapi bahwa dulu, saat saya bekerja di lembaga amil zakat, pernah menulis masalah orang kaya yang ingin mendapatkan bantuan, padahal dalam fiqih sudah diatur sedemikian rupa—siapa saja yang berhak menerima bantuan.

Selain itu, Salam juga mengomentari konsep sedekah Jumat. Menurutnya, mental pengemis itu akan semakin tumbuh dengan sedekah perindividu. Banyak pengemis yang sengaja menunggu di jalan dengan harapan ada yang memberi makan.

Bagi Salam, sedekah yang baik jangan dilakukan oleh individu melainkan harus disalurkan ke lembaga. Dan tentu saja, hasil dari uang sedekah tadi tidak hanya menjadi kotoran di septitang melainkan dapat berguna untuk jangka panjang.

“Lalu bagaimana dengan perkataan Syekh Abdul Qodir bahwa memberi makan orang lapar lebih dari daripada membangun seribu masjid?” tanya saya.

“Kamu tahu Masjid Jogokariyan di Yogyakarta? Nah, maksud saya harus ada yang mengolah uang sedekah. Jangan kita membiasakan sedekah individu yang menimbulkan orang berkumpul di suatu tempat—itu mental pengemis,” ujarnya.

Saya belum pernah melihat Salam bersungguh-sungguh dalam mendiskusikan persoalan tulisan sampai sedemikian rupa. Tujuan Salam sangat baik, bagaimana caranya agar bangsa kita dapat menghindari tradisi mengemis.

Hemat saya, walaupun ada sebuah lembaga yang mengelola uang sedekah—mental pengemis —akan selalu ada, jika pemerintahnya saja tidak bisa membuat kebiasaan yang baik. Ya tadi itu, coba dong kalau pemungutan suara jangan ngemis, apalagi pakai uang sogokan segala. Blok!*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==