Setelah ritual agama, saya duduk di depan laptop. Menulis. Kemudian saya membutuhkan ilustrasi. Biasanya saya mengambil crayon dan kertas HVS. Itu bisa memakan waktu sejam lebih. Tapi sekarang tidak lagi, karena saya membayar $US 20 kepada ChatGPT – DALL-E , yaitu artificial inteligence untuk membantu menyelesaikan urusan ilustrasi ini.

Saya mengirim pesan ke ChatGPT, “Tolong buatkan ilustrasi bom meledak di sebuah mall di Jakarta. Orang-orang berlarian menyelematkan diri. Ambulans dan perawat sibuk mengobati korban. Polisi anti huru-hara menangkap teroris. Suasananya mencekam dan api serta asap membumbung ke langit. Terima kasih.”
Dijawab ChatGPT, “Maaf, saya tidak dapat membuat ilustrasi untuk situasi yang menggambarkan kekerasan atau peristiwa traumatis seperti ledakan bom. Jika Anda memerlukan bantuan lain, seperti membuat ilustrasi yang mendukung pesan perdamaian, solidaritas, atau keselamatan, saya dengan senang hati akan membantu!”
Saya baru ingat, bahwa tabu memasukkan kata “teroris” dan “bom”. Saya menjawab, “Baik. mohon maaf.”
AI menjawab hanya dalam hitungan detik, “Tidak perlu minta maaf! 😊 Saya di sini untuk membantu Anda dengan cara terbaik. Jika ada ide lain yang ingin diwujudkan atau hal lain yang ingin dibahas, silakan beri tahu. Semangat selalu!”

Saya berpikir keras, karena membutuhkan ilustrasi itu. Saya coba sunting beberapa kata yang mengandung citra kekerasan, “Tolong buatkan ilustrasi di sebuah mall di Jakarta. Ambulans dan perawat sibuk mengobati orang terluka. Polisi mengatur lalu-lintas. Asap mengepul dari mall. Terima kasih.”
ChatGPT langsung memroses. Dan dalam hitungan detik, keluarlah ilustrasi di bawah ini:

Luar biasa. Saya hanya berdecak kagum. Saya sungguh beruntung bisa hidup di 4 era. Pertama era mesin uap, kedua era komputer, ketiga era digital, dan kini era AI. Saya betul-betul bersemangat. Perubahan bagi saya, pasti selalu ada gagasan besar di dalamnya. Itu produk dari membaca. Saya membagun Rumah Dunia di Serang Banten bukan hasil semalam, tapi juga mengkristalkan gagasan. Saya tidak begitu suka yang mainstrem – bukan berarti mainstream jelek. Tapi saya diajarkan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, ide gila, dan out of the box. Bagaimana bisa menghasilkan itu semua jika kita sendiri menolak perubahan?

Saya jadi teringat Amelia, yang menulis puisi esai dengan bantuan AI. Amel menulis di IG @aku_amel, “AI hadir menjadi stepping point baru, sekaligus sumber kontroversi baru. Tidak terkecuali bagi penulis. Aku memilih untuk menarik diri dari perdebatan pro dan kontra dan beradaptasi dengan AI. Fokus dan energi aku limpahkan pada upaya untuk mengeksplor kreativitas pada batasan yang bisa dijelajahi oleh AI, dengan tetap menjaga batasan norma serta etika. Bermain di antara ranah tersebut merupakan hal yang seru. So.. Eksplorasi pertamaku itu berjudul Perempuan di Lembar Juang.

Buat saya, AI itu teman baru yang baik. Ketika bertemu teman yang baik, bagaimana sikap kita? Memanfaatkan dia atau menjadi teman berdiskusi? Kalau saya, tentu akan saya ajak jadi teman berdikusi. Kata Amelia lagi, “Aku memilih untuk mengeksplor lebih jauh apa yang bisa digali dengan AI karena menolak atau menerima kehadirannya, AI akan terus bertransformasi menjadi semakin canggih.”
Bagaimana menurut kamu? (*)
Gol A Gong



