Tur Literasi Anyer-Panarukan – Mas Gong selalu berkata, dunia itu luas dan kita harus mendatangi tempat-tempat yang jauh untuk belajar mengenal-Nya. Kamis, 9 Oktober 2014. Itu bukan hari biasa. Itu adalah hari pertama Tur Literasi Jawa (TLJ) digulirkan. Selama 45 hari, Mas Gol A Gong, Rudi Rustiadi, Baehaqi Muhammad (alias Arip) dan saya, dan Firman (driver) menyusuri Jalan Raya Pos Deandels yang terbentang dari Anyer (Serang, Banten) hingga Panarukan (Situbondo, Jawa Timur) sepanjang 1.000 kilometer dengan mengendarai Mobil Kepedulian dari Yayasan Tunas Cendekia.

Apa yang akan kami lakukan? Kami menyulut Gempa Literasi, gempa yang menghancurkan kebodohan. Kami juga menggelorakan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis di setiap tempat yang kami singgahi. Gempa Literasi itu berbentuk bedah buku, bazaar buku, pelatihan menulis, pembacaan puisi, dan pertunjukan musik. Di puluhan kota yang kami singgahi, Mas Gong memberikan pelatihan menulis, mulai dari cerpen, puisi, esai, hingga novel. Selain itu, Mas Gong juga memberikan tips bagaiamana membina komunitas literasi yang baik. Ia juga memberi workshop membuat buku cerita bergambar dari dus bekas kepada guru-guru TK dan PAUD. Arip menyajikan pertunjukan musikalisasi puisi. Rudi memberi testimoni kerelawanan. Dan saya membaca puisi.

