Puisi Esai Gen Z: Kamu + Dia ≠ Kita Karya Ermira Nilansari Putri

Kasus perselingkuhan kembali menjadi sorotan publik setelah berbagai peristiwa pengkhianatan dalam hubungan terungkap ke permukaan. Salah satunya adalah kasus perselingkuhan yang melibatkan seorang istri dengan sahabat suaminya sendiri. Peristiwa tersebut mengundang reaksi emosional dari masyarakat karena pengkhianatan tidak hanya datang dari pasangan, tetapi juga dari orang yang selama ini dipercaya sebagai teman dekat.

Kejadian semacam ini menunjukkan bahwa luka akibat perselingkuhan sering kali menjadi lebih dalam ketika melibatkan orang-orang terdekat dalam lingkaran kepercayaan. Puisi esai ini lahir dari kegelisahan atas rapuhnya kepercayaan yang dibangun dalam hubungan, serta perasaan kehilangan yang muncul ketika cinta dan persahabatan sama-sama berubah menjadi pengkhianatan.


https://www.spiritriau.com/Peristiwa/Terbongkarnya-Perselingkuhan-Istri-dengan-Sahabat-Sendiri–Idham-Melakukan-Hal-Nekad–

[I]
Di meja makan yang dulu hangat diiringi obrolan tanpa ujung.
Engkau perlahan mulai sajikan dusta bagaikan bangkai yang dibalut harum mawar.
Senyummu serupa pisau berlapis madu, manis di bibir, busuk di dasar hati.
Apakah engkau perlu menyamakan nama?
Aku tak paham cara berpikirmu.
Rangkaian fonem membentuk inisial.
Dering telepon mengejek sinis.
Kau membungkam getar gawai.
Itu bukan aku.
Aku yang sekarang terlupakan.

[II]
Perselingkuhan itu adalah ular licin yang menjilat sisa sumpah pernikahan.
Mencoba menggerogoti kepercayaan hingga tulang-tulang kecewa yang tersisa.
Bagaimana intuisi wanita mandiri?
Ragaku termenung sendiri.
Tanganku menghalangi bacokan iri.
Notifikasi menyambarku tanpa permisi.
Penghianat ternyata teman sendiri.
Bukankah itu cukup menggelitik.

[III]
Apakah ini sebuah pertanda?
Gerombolan pesan berdesakan.
Bertanding siapa yang paling cepat.
Berharap segera dibuka.
Berharap segera dibaca.
Berharap segera dibalas.
Dulu tanpa curiga kubiarkan.
Tak ingin membatasi dunia yang kau suka.
Namun, apa yang kudapatkan.
Kalian membalas dengan penghianatan.
Inilah rupa sesungguhnya.
busuknya:
PACAR
x
SAHABAT.

[IV]
Betapa menjijikkan—
Cinta diperdagangkan bagaikan barang murahan di pasar gelap.
Janji suci diinjak dengan kaki penuh lumpur nafsu.
Bagaimana kalian tega berkhianat?
Aku percaya kebaikan.
Ternyata yang dihadapi bukan manusia.
Mereka iblis yang menyamar bagaikan malaikat.
Aku menutup telinga dengan tegas.
Gawai itu mencemoohku dengan semangat.
Saksi bisu perselingkuhan mereka.

[V]
“Teman dekat” ujarnya,
dua kata lucu,
dulu aku percaya tanpa syarat,
sekarang hanya tinggal luka sayatan,
aku tak berniat membalas,
akan kuserahkan semua urusan,
kepada Sang Mahakuasa.

Kalian tertawa di atas air mata yang kini membanjiri pipiku,
berdansa dengan semangat di atas luka yang belum sempat kering.
Padahal hati yang dikhianati adalah rumah yang runtuh perlahan karena rayap bernama pengkhianatan.
Aku muak melihat kesetiaan dibunuh diam-diam di balik layar pesan,
sementara kata “sayang” kini telah bertransformasi menjadi racun yang menetes dari lidah.

[VI]
“Teman dekat” ujarnya,
guratan kata cinta,
menari dengan liar dilayar,
baterai menahan napas agar tak tandas,
layar gawai cupu ketika muncul 1 nama,
inisial yang tak kusangka,
sudut mataku menangkap layar,
ditranskripsi oleh otak sebagai tanda (?).

Yang kupahami hanya satu.
Perselingkuhan itu bukan cinta,
Ia hanyalah sampah berparfum mahal—
terlihat indah dari jauh, namun beraroma busuk ketika didekati.

[VII]
“Teman dekat” ujarnya,
derap jam dinding menggema,
01.15 WIB menjadi awal kalian,
mengawali topik yang ditahan seharian,
disetujui langsung oleh rembulan,
ribuan bintang menatap malu atas kelakuan,
dua insan yang bernostalgia.

[VIII]
“Teman dekat” ujarnya,
kutenggelam dilaut kepercayaan,
apakah kalian tidak merasa bersalah?
sungguh aku ingin tertawa kencang,
“hahahaha…” tawa menggema,
asmara di balik kata “teman dekat”,
keluar karena menganggap situasi aman,
aku cukup kau buat trauma,
terima kasih atas hadiah kalian.

[IX]
Kamu + Dia ≠ Kita
“Kamu + Dia”
diukir berulang kali di udara
sedangkan “kita”
hanya bisa berharap
nyatanya dicoret dengan semangat.

[X]
Kamu + Dia ≠ Kita
“Dia”
dia berdansa didaun pintu rumah
memancarkan senyum cerianya
“Aku”
mengemis secuil perhatian
penolakan menyapa paling depan

membantu mengajariku mengeja:
“ini/
bukan/
rencana/
kita/
tapi/
nyata/
sakitnya//”

[XI]
Kamu + dia ≠ kita
rumus itu jelas tak terbantahkan
aku masih menangis hari pertama
hari kedua aku mencoba mengalihkan perhatian
sedikit usahaku menghapus jejakmu hari ketiga
entah hari keberapa
aku sudah lupa.

Tentang Penulis

Ermira Nilansari Putri, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Jatisrono, menenun perjalanan intelektualnya melalui jejak pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia dan PPG Prajabatan 2024. Karya-karyanya melintasi batas ruang, hadir dalam buku, prosiding internasional, artikel ilmiah, hingga antologi puisi yang merekam jejak pemikirannya. Sejak 2019 ia terlibat aktif dalam berbagai proyek penelitian pendidikan, meneguhkan dedikasinya sebagai pendidik dan peneliti. Baginya, menulis adalah cara merawat ilmu, berbagi cahaya, dan menghadirkan makna bagi dunia pendidikan.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==