Muhammad Subhan
Yang Jauh
Setiap kali senja tiba
aku selalu mengulang tanya
adakah rantau yang telah diteroka
tersemai sudah mimpi, atau masih
membolak-balik tanah pijakan
yang rapuh dan tak terurai.
Setiap kali senja tiba
kutitip pesan pada angin,
pada hujan, pada kabut
yang menjadi embun di mataku
sudahkah sampai segala yang
digapai, lalu kampung seberapa
jauhkah lagi untuk turut sampai.
—rumah gadangmu masih itu juga
tapi kau tidak lagi yang dulu.
Setiap kali senja tiba
doaku menjadi gumam di sajadah
menjelang azan berkumandang
dan rindu semakin berkecambah
lalu ingatku terempas pada masa kecilmu
yang pulas di buaian, “Duhai, tidur, Nak.
Tidurlah yang nyenyak…”
—zikir dan shalawat itu kuratepkan lagi.
Setiap kali senja tiba
kupandangi lekat potretmu di dinding
dan aku terpaku dalam hening
lalu tiba-tiba udara terasa kering;
bertuba, aku renta dimakan usia.
Padang Panjang, 2024

Muhammad Subhan
Yang Menangis
“ya, sudahlah.”
ia beranjak
ke meja kopi
mengambil tadah
lalu memeras
air matanya
sendiri.
sementara
beduk berbunyi.
dan ia berbuka
puasa tanpa
seseorang
yang pernah
membangunkan
sahurnya.
Padang Panjang, 2024

Muhammad Subhan
Yang Mengenang
meja makan itu masih ada
dua kursinya juga
dulu kau duduk bersemuka
dia menyendokkan nasi ke piringmu
juga ke piringnya, lalu kau dan dia bercerita
tentang bulan di jendela
ketika purnama redup
kursimu hening, seperti dinding
yang tetap sunyi, kecuali
detak jarum jam yang angka-angkanya
mengulang kenangan di saat kau meminta
diseduhkan kopi atau mengajaknya ke halaman
menyiangi ilalang yang mulai meninggi
meja makan itu masih ada
dua kursinya juga
tapi dia tak lagi duduk di sana
dan kau disesak deja vu
pada tahun-tahun purba itu
Padang Panjang, 2024

Muhammad Subhan
Yang Tafakur
dan, sekejap saja, kenangan berlalu, meninggalkan jejak.
bulanbulan menyapa dengan debar, mengetuk pintu, adakah kopi paling rindu, tanyamu.
di meja, cangkir dan tadah didekap gigil, air di teko telah dingin.
sementara di tungku api kayu basah, dibawa tempias hujan di dinding yang tiris
—hujan air matakah, atau mata airkah?
ah. Entahlah.
malam beranjak, membawa sepi, di mihrab, zikir dan doa tak putusputus hingga ke palung subuh.
Padang Panjang, 2024

Muhammad Subhan
Yang Berpulang
Kita menunggu giliran
di barisan panjang antrean
sementara yang lebih dulu melaju
telah sampai di garis perbatasan
melambai-lambaikan tangan
menguncapkan selamat tinggal.
Padang Panjang, 2024

TENTANG PENYAIR: Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku puisinya Tungku Api Ibu (2023) dan Kesaksian Sepasang Sandal (2020). Novelnya Rumah di Tengah Sawah diterbitkan Balai Pustaka (2022). Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Esainya tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu (2019) dan puisinya tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival (2019). Beberapa puisinya dialihwahanakan menjadi lagu dengan iringan musik klasik oleh pianis bertaraf internasional, Ananda Sukarlan. Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com. WhatsApp: 0821-6987-7399. Instagram: @muhammadsubhan2

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : golagongkreatif@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

TERBIT EDISI 15/I/14 APRIL 2024:


