“Tuh, ada kakak-kakak, Bel,” kataku kepada Bella, bayiku.
“Kalian habis dari mana?” tanyaku ke anak-anak perempuan itu.
“Main di sawah,” jawab salah satunya.

Dua orang lagi berbisik-bisik, lalu mengajak pergi. Anak perempuan pertama tersenyum malu.
“Pulang dulu ya, Bu. Takut dicariin emak saya,” katanya lalu berlari mengejar dua anak lainnya.

Esok sorenya pun begitu, saat aku mengajak Bella duduk di teras depan, anak-anak datang lagi. Kali itu mereka mengajak teman lainnya, ada anak lelaki juga. Kebiasaan mereka melihat bergerombol dari luar pagar. Berbisik-bisik membicarakan kami, lalu tersenyum saat aku tanya ada apa.

Begitu pun sore berikutnya. Akhirnya kutawarkan masuk dan duduk di teras. Sekali mereka menolak halus, lanjut berlari pulang. Kali kedua mereka bersedia dan duduk kikuk di teras.
Aku minta tolong Teh Isah, pembantuku yang tinggal di rumah, untuk mengambil kue di meja makan.
“Ini ada kue, silakan dimakan,” kataku sambil membuka toples. Bella sudah bisa duduk, jadi aku menjagai dari belakangnya.


Anak-anak itu awalnya malu-malu, tetap di balik pagar. Tetapi seorang berani mengawali mengambil kue, dan langsung diikuti anak lainnya. Aku sediakan juga minum dari air mineral gelas.
Sepertinya percakapan kami biasa saja, tentang nama, rumah, sekolah, dan orang tua mereka. Tetapi bagiku itu sangat berarti, karena aku menjadi kenal orang-orang baru di sekitar tempat tinggal.

Kami baru menempati rumah beberapa bulan, setelah menumpang tinggal di rumah mertuaku. Rumah kami saat itu masih belum selesai, dan listrik masih mengambil dari tetangga, karena permohonan aliran listrik belum selesai diurus PLN.
Aku pun baru mengenal sedikit tetangga sekitar, jadi bertemu anak-anak yang berkunjung ke rumah buatku sangat menyenangkan. Aku dapat sedikit memetakan rumah dan nama ibu mereka, dan saat melewatinya aku bisa menyapa seolah sudah kenal.

“Ibu, kemarin lewat depan rumah saya, ya?” tanya seorang anak dalam kedatangan sore berikutnya. Wajahnya tampak gembira saat bertanya.
“Oh, ya, rumahmu yang dekat jembatan, ya?” tebakku mengingat-ingat.
“Iya, Bu. Emak saya kaget, kok Bu Bella tahu nama Emak. Emak saya senang banget, Bu. Langsung diceritain ke tetangga. Eh, tetangga saya bilang, dia juga pernah dipanggil Bu Bella. Uuh, mereka pada senang Bu Bella tahu namanya!”
Aku tertawa mendengar anak-anak itu saling menimpali tak ingin kalah. Mereka sudah tidak canggung lagi datang ke rumah. Aku membiasakan mereka menguluk salam dan menunggu pagar dibuka. Tampak prosedural sekali, ya? Menurutku penting mengenalkan adab sopan santun bertamu. Walau sesekali mereka lupa, dan nyelonong membuka pagar begitu saja.
Bersambung ke Sejarah Rumah Dunia 2



