Semangat Tim Hore untuk Nyenyore dan Kado Lebaran 2025 – Bagian 1

Oleh Tias Tatanka

Setiap jelang Ramadan kami bersiap menyelenggarakan acara tahunan, semacam ngabuburit selama beberapa hari. Tajuk acara itu kami namai Nyenyore, yang biasanya diisi dengan diskusi berbagai topik.

Sebagai penutup rangkaian acara Nyenyore, diadakannya Kado Lebaran. Acara ini khusus untuk anak-anak sekitar, dan hadiahnya adalah uang tunai. Biasanya setiap peserta mendapat angpau atas keikutsertaan mereka dalam acara.

Kado Lebaran sendiri diisi lomba-lomba yang menyasar usia pra sekolah hingga SMA. Tahun ini ada lomba untuk ibu-ibu, dengan hadiah sembako.

Alur penyelenggaraan Nyenyore dan Kado Lebaran ini biasanya kami mulai sebulan sebelumnya. Aku adalah salah satu orang yang aktif menanyakan kabar persiapan acara. Sebelum panitia terbentuk, aku sudah sibuk bikin rencana anggaran. Dari situ teman-teman relawan dapat melihat peta kegiatan dan kebutuhan. Sekadar contoh, untuk Nyenyore dan Kado Lebaran tahun ini aku menghitung kebutuhan anggaran sebesar 14 juta. Bukan jumlah yang kecil, tapi nilai itu sangat rasional dengan kegiatan yang akan dilakukan.

Sebenarnya rencana anggaran itu berupa template, jenis kegiatan belum ada, apalagi pemateri dan pendukung acara. Namun, dari perhitungan kebutuhan biaya itu teman-teman relawan mulai menyusun acara dan memilih pemateri. Ada beberapa relawan Rumah Dunia yang mengeluarkan buku baru, ini kami beri prioritas untuk mengisi slot.

Hingga tersusunlah rangkaian acara seperti dalam foto. Kami lalu mengunci jadwal para pemateri dan pengisi acara. Kemudian menyusun undangan bagi peserta diskusi, maksimal 40 orang karena terkait dengan konsumsi yang tersedia. Jadi aku ingin berterima kasih kepada suruh pemateri, pengisi acara, dan para peserta yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk hadir di acara Nyenyore. 🙏

Beberapa tahun lalu berkali-kali kami menyelenggarakan Nyenyore dengan peserta membludak. Seringkali persediaan konsumsi memaksa para relawan berbagi sebungkus berdua. Malah kadang tidak kebagian sama sekali. Ini yang membuatku merasa miris.

Kami tidak mungkin melarang orang datang ke acara dan menyantap takjil saat buka puasa. Tapi yang bikin kesal adalah mereka yang datang belakangan dan hanya mengincar konsumsi. 😂 Akhirnya aku mengusulkan adanya kupon konsumsi, yang disediakan sejumlah tertentu. Hanya sekian orang yang hadir pertama yang mendapat jatah konsumsi dengan cara menukarkan kupon. Ini termasuk panitia, supaya adil juga.

Usulku ini ditentang para relawan dengan alasan tidak patut, tidak enak, tidak lazim, dan sebagainya. Aku menyerahkan keputusan pada mereka, jika tetap pada cara semula ya tidak apa-apa.

Kemudian ketika ada kesempatan untuk mencoba usul penggunaan kupon itu, ternyata lebih teratur alur penyediaan konsumsi. Lama-kelamaan peserta pun biasa mengikuti cara ini. Yang tidak dapat kupon silakan jajan sendiri.

Sebagai tim hore, aku menugaskan diri untuk mendukung acara ini, termasuk membantu mencari donasi. Empat belas juta bukan duit yang gampang dicari dalam waktu yang sempit.

>> bersambung ke bagian 2

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==