Tidak banyak Walikota di Indonesia yang memiliki kebenarian seperti Pak Syafrudin. Mereka pasti memperhitungkan gejolak yang akan terjadi di lapisan masyarakat. Respon-respon negatif pasti akan meramaikan kebijakan ini. Ditambah, dampak lingkungan jangka panjang yang akan terjadi. Tapi, Pak Syafrudin tidak memiliki sifat takut. Pokoknya aje kendor, Lur. Pak Syafrudin, berani mengambil sikap dan langkah tegas. Kritik dari masyarakat, aktivis lingkungan, dan akademisi ia terima, tapi tak perlu juga pusing-pusing untuk mendengarkan dan mempertimbangkan apa yang mereka bicarakan dan gunjingkan.

Masyarakat harus menyadari bahwa ini hanya sampah. Barang tidak bernilai. Tetapi, di balik itu ada uang puluhan miliar yang akan didapatkan Kota Serang. Dari uang itu bisa digunakan untuk pembangunan Kota Serang yang lebih baik lagi kedepannya. Yang lebih beriman dan bertakwa lagi, tentunya.

Jika hari-hari ini terjadi keributan di lapisan masyarakat terutama aktivis dan akademisi, pastinya sudah bisa dijamin bukan karena urusan sampahnya, tetapi mereka juga menginginkan pembagian dari uang sampah tersebut? Jujur sajalah. Sudah jangan bersembunyi di balik kata-kata agung dan bijak. Kalaupun ada yang lantang atas nama nurani, ya, bisa dihitung dengan jari.

Karena santernya pemberitaan sampah, dengar-dengar akan banyak diskusi digelar, baik di Café, di di berbagai komunitas, ada juga yang membuat talkshow di kanal YouTube, live streaming di Facebook sambil melontarkan kata-kata empati yang dalam atas kebijakan ini. Sok mangga, ya Pak. Mudah-mudahan banyak yang merespon dan banyak masyakat yang nonton. Saya mah yakin aja ya Pak, nanti juga mereka reda sendiri. Nanti juga mereka capek sendiri. Mereka, kalau ada ribut-ribut begini selalu mencoba untuk jadi pahlawan. Orang-orang yang tidak tahu persoalan sampah juga merasa paling tahu seluk beluk tentang sampah.

Kalau dipikirkan terlalu dalam pusing juga, untuk itu biarkan aja, Pak. Toh MoU sudah ditandatangani dan diketuk palu. Suka tidak suka nanti juga suka tinggal nunggu waktunya aja. Biasa, kalau ada hal-ahal baru manusia merasa terusik dan tidak nyaman. Hal itu sudah tabiat manusia. Manusia jika mendiami tempat baru, memiliki pekerjaan baru, memiliki mobil baru, memiliki istri baru selalu gelisah. Apa lagi ini persoalan sampah, sudah pasti mereka tidak saja gelisah, tapi merasa cemburu karena selama ini tidak terpikirkan oleh mereka bahwa sampah memiliki niai penting untuk sebuah Kota.

Saya sih senang-senang aja mendengar perkatan dari aktivis dan akademisi bahwa Serang sebagai kota sampah ya, Pak. Serang kota sampah. Hmm Boleh juga. Bukankah ini akan memperkuat entitas keserangan kita. Bukankah ini sebagai legitimasi yang harus kita amini bersama. Sebuah kota, saya kira harus juga berani mengambil sikap dan jarak dari masyarakatanya. Untuk itu kepentingan pribadi, harus di atas kepentingan umum. Takbir! *
Abdul Salam, tukang kopi di Rendez-vous


