Serang Oh Serang, Harapanku Memudar!

“A, ini pengalaman ibu pertama ke Kota Serang. Ibu melihat Kota Serang itu kumuh. Bayak sampah. Selain itu, jalanannya banyak lubang dan rawan akan banjir,” katanya.

Monumen Daerah Kota Serang, wajah buram kota kita

Tidak berhenti di situ, ibu itu menyoal juga bagaimana kerja pemerintah Kota Serang. “Di Brebes, jika ada jalan berlubang, dan ada daerah-daerah kumuh bupati turun langsung menangani masalah tersebut, tetapi kok di sini LSM dan pemerintah seperti tidak bergerak. Apakah masih banyak pejabatnya yang korupsi?” ibu itu melemparkan pertanyaan pada saya.

Monumen Daerah di alun-alun Kota Serang yang kumuh

Pertanyaan mengenai buruknya pembangunan Kota Serang bukan kali pertama saya dapati, beberapa tahun lalu, saya pernah bertemu bapak-bapak yang sedang makan uduk di dekat Carrefour malam hari. Bapak itu bercerita bahwa sejak muda, sejak tahun 1990-an sudah meninggalkan Serang untuk bekerja di Papua, Kalimantan, dan Medan. Malam itu, ia sengaja dari Tangerang datang ke Serang untuk mengenang masa mudanya, tetapi ia merasa kecewa di tempat-tempat yang ia singgahi untuk bekerja sudah bagus dari infrastruktur, tetapi Serang, sejak ia muda sampai sekarang situasinya tidak jauh berbeda: kumuh dan tidak terawat.

Rumah Dunia, mencoba mewarnai hari-hari yang suram di Kota Serang

Mendengar cerita babak tersebut, hati saya terenyuh. Ya, siapapun orang yang pernah pergi jauh meninggalkan tempat tinggalnya pasti akan rindu, dan tentu saja berharap tempat tinggalnya dulu bisa lebih baik dan maju.

Banten Lama bersolek, tapi…..

Kembali ke pertanyaan si ibu, apakah pejabat di Kota Serang masih banyak yang korupsi? “Jika dilihat dari kinerja pembangunannya tidak bisa ditampik pasti ada, Bu. Tetapi, kita juga harus menghargai pilihan Kota Serang,” kata saya.

“Maksudnya?” kata ibu itu memburu jawaban saya.

Jawara yang kemudian masuk ke politik dan bisnis

“Kota Serang, mungkin, memilih identitasnya sebagai Kota anti perubahan, Bu. Ya, sejak 2008, sejak saya tingal di Kota Serang sampai sekarang, track angkot (angutan kota) nggak jelas, trotoar pejalan kaki jadi tempat pedagang kaki lima, setiap kali hujan, jalan-jalan terendam banjir.”

A;lun-alun Kota Serang setiap Minggu pagi

Beberapa tahun lalu ketika kekuasaan berganti, saya punya secercah harapan bahwa Kota Serang bisa lebih baik ke depan. Kini, harapan itu pudar dengan sendirinya ketika tahu pemimpin saat ini ternyata tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas untuk membangun kota ini.[]

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==