Surat Terbuka Kepada Wakil Ketua Komisi V DPRI RI, Ir. Ridwan Bae, ST

Saya sudah mendatangi hampir setiap jengkal kota-kota di Indonesia. Saya melihat Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis berkembang pesat. Perpustakaan di Provinsi, Kota, Kabupaten, bahkan di desa-desa mulai ramai dikunjungi; mereka mengakses Google sekaligus membaca buku konvensionalnya. Perpustakaan keliling ditunggu kehadirannya setiap saat – termasuk menanyakan buku-buku baru.

Tiba-tiba, saya seperti disamber geledek ketika menonton tayangan video di akun FB PenaSultra.id yang berjudul “Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ir. Ridwan Bae, ST Soroti Kerusakan Infrastrukutur Jalan Provinsi”. Pak Dewan dari Fraksi Partai Golongan Karya, Darah Pemilihan Sulawesi Tenggara mengomentari jalan yang rusak di Sulawesi Tenggara, karena Gubernurnya meminjam dana Rp. 1 trilyun dan membangun sesuatu yang tidak prioritas. “Gubernurnya membangun perpustakaan. Untuk apa perpustakaan itu? Orang sekarang tinggal buka Google.”

Saya sertakan linknya di sini:
https://fb.watch/eUkNiJWUpc/

Saya breharap Pak Dewan berbicara seperti itu tidak keluar dari hati. Saya setuju jika jalan rusak di Sultra harus diperbaiki jadi mulus. Tapi tidak elok juga jika Pak Dewan berpendapat, membangun perpustakaan itu tidak penting dan Google adalah segala-galanya. Memangnya gampang, Pak Dewan, memverivikasi tulisan-tulisan atau e-book di Google jika ada mahasiswa yang sedang melakukan penelitian? Pak Dewan yakin, mereka memiliki kuota cukup?

Jika di Sultra atau di provinsi lain, ada perpustakaan yang megah, maka si mahasiswa tinggal datang, berselancar di Google karena ada wifi dan memverivikasinya di buku-buku referensi yang ada di rak-rak perpustakaan. Tugas Pak dewan memang mengawasi anggaran, tapi janganlah mengeluarkan pernyaan nyinyir kepada Gubenur yang membangun perpustakaan. Masak Pak Dewan harus saya ingatkan lagi tentang amanah UUD 1945?

Saya hanya geleng-geleng kepala ketika memutar ulang lagi video itu. Pak Dewan ini tidak memahami fenomena di masyarakat. Tidak tahu apa itu “6 Literasi Dasar” yang sedang digalakkan oleh pemerinah dan direspon dengan baik oleh masyarakat. Pak Dewan tidak tahu bahwa sejak 2001 ada Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca. Pada 2005 bergabung para pegiat literasi Forum Taman Bacaan Masyarakat di Gerakan Literasi Nasional. Komunitas baca-tulis seperti Forum Lingkar Pena, Satu Guru Satu Buku, Nulis Aja Dulu, Komunitas Sastra, dan masih banyak lagi di daerah-daerah muncul secara bergelombang paska reformasi. Semuanya bergerak untuk melawan stigma merendahkan dari negara luar, bahwa kita adalah bangsa yang rendah minat bacanyanya. Gerakan itu di Sultra ada semua, Pak Dewan. Saya pernah ke Kendari, Bombana, dan Baubau. Mereka sangat membutuhkan perpustakaan.

UNESCO mengabarkan, bahwa orang Indonesia harus membaca 3 judul buku setahun. Perpusnas RI menyodorkan data, bahwa 1 buku ditunggu oleh 90 orang. Kami di komunitas literasi, mulai dari anak SD, pelajar, mahasiswa, emak-emak, para guru, wartawan, sastrawan, para buruh pabrik berlomba-lomba menulis dan menerbitkan buku secara gotong-royong, agar rak-rak buku di perpustakaan bertambah koleksinya. Pak Dewan kemudian bilang, “Untuk membangun perpustakaan, kan ada Mbah Google!”

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==