Pucat. Mata hitam legam. Pipinya basah oleh air mata gelap seperti tinta. Lalu… ia menyeringai… Senyum mengerikan, memperlihatkan gigi-gigi runcing seperti drakula.
Fiksi Mini: Halte Karya Deasy Junaedi

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Pucat. Mata hitam legam. Pipinya basah oleh air mata gelap seperti tinta. Lalu… ia menyeringai… Senyum mengerikan, memperlihatkan gigi-gigi runcing seperti drakula.

Forum TBM Jawa Tengah bersama TBM Warung Pasinaon menggelar kegiatan literasi “Tinta Perjumpaan” di Balai Bahasa Jawa Tengah, Sabtu (4/10).

Duta Baca Indonesia kembali menebarkan semangat literasi melalui pelatihan menulis fiksi mini di SMAN 1 Puri Mojokerto, Senin (29/9/2025).

Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya mengenakan baju kasual masuk dengan napas memburu. Di belakangnya, seorang satpam besar mengikuti.

Akhirnya, dari arah kanan, Pak Danang muncul tergesa, napasnya sedikit tersengal, wajahnya berkeringat. Di tangannya ada dua gelas plastik bening berisi bubur kacang ijo, masing-masing dengan sendok plastik terselip.

Oleh Aii Aayy Jakarta, Senin, 15 September 2025 — Peluncuran buku sekaligus pemecahan Rekor MURI penulisan fiksi mini terbanyak di Indonesia sukses digelar di Perpustakaan …

Bi Wiyas mengarahkan layar ponselnya ke hadapan semua orang. Video mulai diputar. Rekaman itu menampilkan Rey dan Mama Clara – duduk di taman, tertawa, saling menyuapi potongan buah dengan senyum mesra.

Insyaallah hari Senin besok tanggal 15 September 2025 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia akan diluncurkan buku hasil kegiatan tersebut sekaligus dilakukan penyerahan piagam dari MURI kepada kami – SIP Publishing.

Ibin adik kelasku di SMA. Kami kini bekerja di kantor yang sama, yaitu Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Atasan kami memerintahkan, agar Lawang Sewu dijauhkan dari kesan angker. Gedung ini harus jadi wadah ekspresi anak muda. Itu sebab kenapa diadakan kompetisi cosplay anime, karena anak-anak muda sangat menyukai.

Pandangan Raka berubah kosong. Pikirannya melayang ke kenangan tentang ayah dan ibunya, yang tak akan pernah bisa ia gapai lagi, namun tak akan pernah terhapus dari sanubarinya. Perlahan, Raka menyeka air matanya.

Minta menoleh ke kanan, juga ke kiri. Ia tak mengenal siapa-siapa secara pribadi. Ia menyaksikan semua wajah di barisan itu tampak berseri. Tapi, ia merasa dirinya seperti patung lilin yang dipajang tanpa narasi. Kilatan kamera menghujani wajahnya. Jepret. Jepret. Jepret.

Awang menoleh ke jam dinding. Tuk… tuk… tuk… — denting detiknya semakin keras, seperti palu mengetuk batok kepalanya. “Ini sudah keterlaluan!” suara di kepalanya terus menggedor.
Awang berdiri. “Apa katamu tadi? Sebentar?” suaranya meninggi. “Saya sudah menunggu satu jam di sini! Bersabar! Perusahaan macam apa ini?!”

Tiba-tiba aku mendengar suara erangan dari kamar ibu. Aku langsung mematikan keran air dan meninggalkan pekerjaanku untuk melihat keadaan ibu.

Pedih dengan sangat kurasa saat mengingat hidupku di sekolah ini. Tiba-tiba buliran-buliran bening mencucur dari sudut mataku.

Adela ingin bergegas pergi, tetiba ada seorang lelaki yang mendekat. Dengan jas hitam berdasi kupu-kupu, ia berjalan dengan tenang. Di tangan kananya ada buket yang berisi biskuit dan mawar merah. Lelaki itu berhenti tepat tiga langkah sebelum sampai pada Adela.

Santi meletakkan termos di rumput dan memutar kursi roda dengan hati-hati agar posisi Arman nyaman melihat gunung Kinabalu.
Risa mengabadikan peristiwa itu dengan kameranya. Dia merasakan tatapan Arman begitu dalam kepada Santi.

“Bu, maaf jika saya lancang. Saya penasaran sekali dengan kotak mungil ini. Kalau boleh tahu, apa isinya? Mengapa Ibu selalu membawanya?” tanya Laras sembari mengusap lembut kotak kecil itu. Kotak itu permukaannya aus tergenggam, seakan sering diusap dalam hening.