Ironi negeri ini: bicara Indonesia Emas 2045, tapi program literasi justru dikorbankan demi efisiensi. Mengapa selalu begitu?
Mengapa Literasi Tidak Pernah Jadi Prioritas?

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Ironi negeri ini: bicara Indonesia Emas 2045, tapi program literasi justru dikorbankan demi efisiensi. Mengapa selalu begitu?

Ini adalah kegiatan saya yang terakhir sebagai Duta Baca Indonesia. Resminya pada Desember 2025, amanah saya bersama Perpustakaan Nasional RI sebagai Duta Baca Indonesia selesai. Terima kasih buat semuanya.

Membaca buku Roga Sanghara Bhumi ini seperti bercermin pada retakan dunia—kita menemukan potret diri yang turut menyumbang pada kerusakan itu. Ayo, segera pesan buku ini ke WA 0877 7788 3370.

Review Novel Gelisah Camar Terbang karya Gol A Gong. Cerita tentang Chairul, seorang mahasiswa yang jatuh cinta pada Halimah, seorang TKI. Bisakah cinta mereka bertahan di tengah perbedaan status sosial, masalah keluarga, dan kerasnya kehidupan di Taiwan? Temukan jawabannya dalam review lengkap ini.

Jika aku mengingat masa bergolak itu, ya Allah, patut aku syukuri. Allah SWT memudahkan dan melancarkan segala rencanaku. Aku percaya, jika kita merencanakannya dengan baik dan mewujudkannya dengan ikhtiar dan doa, maka Allah SWT akan selalu berada di sekitar kita.

“Mbak kan baca buku saya di ruang publik. Jadi, mbaknya harus bayar royalti. Kecuali kalau mbaknya baca buku saya di ruang private.”

Puluhan siswa SD Terpadu Al Qudwah antusias ikuti pelatihan menulis cerita anak bersama Gol A Gong dan Tias Tatanka.

Aku merasa inilah kesempatanku traveling Januari-Februari 2026 nanti. Ini bagiku ibarat riset lapangan, menemukan ide-ide segar untuk calon buku-bukuku nanti. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusanku ini.

Bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusti tidak hanya bergerak di dunia tulis menulis saja, tapi dia mendirikan taman bacaan masyarakat. Dia mengajari anak-anak lingkungannya di Desa Noelbaki – Kabupaten Kupang – NTT. Saya penah diajak dan berkegiatannya di taman bacaannya Akademi Cakrawala NTT. Persis seperti di Rumah Dunia, komunitas literasi yang saya dirikan di kota Serang-Banten.

Perjalanan ini menjadi bentuk ucapan terima kasih saya kepada semua pihak, Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di daerah, Duta Baca Daerah, Forum TBM, Forum Lingkar Pena, Iqro Semesta, IPI, GPMB, sekolah, kampus, kawan-kawan pers, dan masyarakat luas yang telah setia mendukung program literasi.

Kita sering menghakimi anak-anak Gen Z/Gen Alpha literasi baca-tulisnya rendah. Terutama kita terlalu menghamba pada hasil riset PISA. Maka Relima harus datang ke sekolah-sekolah. Jangan hanya ke TBM, kampus, atau di ruang seminar saja. Berikan wawasan tentang manfaat membaca dan ajari mereka menulis.

Kini si biru akan saya bawa Safari Literasi Jawa, September sd Oktober 2025. Ini agenda terakhir saya sebagai Duta Baca Indonesia yang akan berakhir Desember 2025.

Hutanku hutanmu. Mari kita jaga. Jangan digunduli. Jangan dibakar. Nikmati Puisi Minggu edisi 33/II/24 Agustus – 31 Agustus 2025: Tentang Hutan karya Gol A Gong. Jangan lupa, seduh kopimu.

Perjalanan ini menjadi bentuk ucapan terima kasih saya kepada semua pihak, Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di daerah, Duta Baca Daerah, Forum TBM, Forum Lingkar Pena, Iqro Semesta, IPI, GPMB, sekolah, kampus, kawan-kawan pers, dan masyarakat luas yang telah setia mendukung program literasi.

Di sela-sela itu, saya menyarankan agar Jordy-Natasha membel tiket kereta api ke Nong Khai, kota kecil di Thailand Utara, berbatasan dengan Laos. Saya ingin menutup tahun 2025 di Nong Khai. Pada 1 Januari 2026 menyeberang ke Laos. Dari Nong Khai, Anda bisa masuk ke Laos melalui Kota Vientiane dengan menyeberangi Jembatan Persahabatan Thailand-Laos Pertama. Jembatan ini menghubungkan Nong Khai di Thailand dengan Vientiane di Laos.

Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kabupaten Subang menggelar kegiatan Duta Baca Indonesia Masuk Sekolah di SMKN 1 Subang, Kamis 21 Agustus 2025.

Ya, Allah! Kita meyakiti bahkan membunuh perempuan yang akan melahirkan ibu. Kenapa kita – kaum lelaki – begitu tega? Pisau, obeng, tali rapia, bantal, batu, cekikan, adalah ritual terakhir setelah menikmati tubuh perempuan. Begitu pengecut kita, kaum lelaki.