Menulis Novel di Bawah Tekanan Pandemi Covid-19

Tahun 2020 saya berhasil menulis novel di bawah tekanan pandemi Covid-19. Judul novelnya “Lelaki di Tanah Perawan”. Kalau sebelum era digital tayang di majalah mingguan, sekarang di platform digital Storial dot co.

Kini januari 2021, pandemi Covid-19 belum tampak berakhir. Vaksin pro dan kontra. Ternyata masih saja ada yang tidak percaya Covid-19. Padahal sudah banyak orang yang mati sia-sia karena pandeni gila itu. Mungkin jika mereka yang kontra terkena, baru percaya.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

“Roy itu gue banget!” Begitu Kata Pembaca

Hello, sahabat. Mari kita berdiskusi, ya. Saya ingin bercerita, bagaimana saya bisa mendapatkan ide menulis novel serial “Balada Si Roy”? Hal itu juga sering ditanyakan orang. Di tulisan ini saya akan menjawab dari sisi yang umum saja. Ya, dari mana saya mendapatkan ide menulis Balada Si Roy? Dari kisah anak muda di Indonesia. Bisa kamu, dia, mereka, atau siapa saja. Selama 6 tahun, 1981-87 saya melakukan riset pustaka dan lapangan.

Roy adalah anak muda yang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang berharga yang dicintai dalam hidupnya. Itu sebab judul novelnya “Balada”. Ibarat musik, juga bisa seolah rock and blues.

Roy adalah kamu yang muda, yang gelisah dengan sekeliling. Sebelum nonton filmnya baca dulu novelnya. Pesan ke 081906311007.

#filmbaladasiroy
#IDNPictures
#golagong

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Backpacker ala 1980-an

Ketika teman-teman saya menyelesaikan skripsi di Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran Bandung pada 1985, saya mengambil keputusan penting: mengundurkan diri. Selain banyak “hutang” mata kuliah, saya sudah tidak sabar ingin mewujudkan imajinasi saya tentang tokoh fiksi seorang remaja petualang, yang kemudian kita kenal sebagai “Balada Si Roy” – akan diproduksai jadi film oleh Fajar Nugros dari IDN Pictures Januari 2021..

Saya memilih backpacking, menjejaki satu kota ke kota berikutnya. Mencatat semua yang saya alami, rasakan, dan lihat. Saya harus mendapatkan “ruh” seorang remaja petualang. Saya meawancarai banyak orang. Ini adalah riset lapangan ala saya.

Di foto ini saya sedang berada di atas truk dari Wonosobo ke Dieng. Kenapa saya memakai sarung tangan? Bayangkan seorang lelaki berlengan satu naik-turun truk menyandang ransel ? Sarung tangan itu untuk menjaga agar telapak tangan kanan saya saat naik ke bak truk tidak sakit. Saya membawa “blue ransel” (padahal warna ranselnya hijau) dan raket, karena jika uang habis saya tantang main badminton jagoan di kampung-kampung!

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Penulis Itu Tidak Sekadar Melihat, Juga Menemukan Ide Cerita

Suatu hari, saya dan Tias tatanka melihat banyak anak kecil menjadi pemulung. Mereka sering mendatangi Rumah Dunia – komunitas penulis yang kami dirikan di Serang Banten setelah acara diskusi literasi selesai. Sampah-sampah minuman mineral dari gelas plastik atau botol mereka punguti.

Kami yakin dengan metode jurnalistik – 5W plus 1H, tidak sekadar melihat anak-anak memungui sampah platik tetapi juga menemukan suatu peristiwa di baliknya! Ini ide cerita! Kami mengajak mereka berbincang-bincang, semacam wawancara informal. Kami mendapatkan kisah menarik dari mereka.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Tiga Fase Menulis: Riset, Menulis, Revisi

Saat lockdown gara-gara pandemi Covid-19, tentu berkah buat saya. Secara ekonomi, penghasilan tentu nol, karena semua rencana jadi pembicara di beberapa kota hingga sebelum lebaran dicancel. Hikmahnya, saya jadi focus menuntaskan seluruh hasil riset saya dan traveling di Indonesia selama bertahun-tahun. Maka jadilah sebuah judul novel : Lelaki di Tanah Perawan.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Ide Cerita Novel Best Seller

Saya mulai menulis secara profesional tahun 1981. Puisi pertama saya dimuat majalah HAI. Saya masih kelas 2 SMA di Kota Serang. Perasaan saya waktu itu melambung tinggi. Honornya dikirim lewat wesel pos, sebesar Rp. 3500,- Semangkok bakso harganya Rp. 250,- Saya bisa mentraktir 8 orang! Peristiwa yang membekas hingga sekarang.

Peristiwa-peristiwa seperti itu saya tulis di “buku harian” secara detail. Saya menyimpannya dan jadi kenangan yang indah di masa depan. Setelah saya kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung (1982-85) saya menemukan cara, bahwa resep menulis fiksi itu adalah : fakta plus jurnalistik (5W +1H) dan imajinasi (intrinsik plus soap opera convention). Dengan resp oplosan itu, alhamdulillah, saya bisa menulis 125 buku (novel, puisi, esai, cerpen).

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5