Seperti halnya menulis, ketika menyapu di Rumah Dunia, saya tidak sekadar menyapu. Saya belajar memperhatikan dan melihat detail. Menyapu dan menulis menurut saya memliki kesamaan, sama-sama harus memperhatikan detail.
Nyapu di Rumah Dunia

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Seperti halnya menulis, ketika menyapu di Rumah Dunia, saya tidak sekadar menyapu. Saya belajar memperhatikan dan melihat detail. Menyapu dan menulis menurut saya memliki kesamaan, sama-sama harus memperhatikan detail.

Kalaupun aku diminta untuk bersaksi, aku tidak sanggup. Aku juga bingung kesaksian atas peristiwa dan kenangan mana yang harus kuceritakan. Tidak ada peristiwa istimewa saat kita bersama. Aku pernah pergi ke laut bersamamu, aku pernah pergi ke hutan, ke bukit, ke pulau juga ke pasar juga bersamamu. Semuanya tidak ada yang istimewa, semuanya sangat istimewa.

Di Rumah Dunia kita sebisa mungkin meraih mereka (anak-anak) untuk bermain, untuk belajar, dan untuk mengenal dirinya. Siapa tahu ke depan, anak-anak ini bisa menjadi generasi yang lebih baik dari generasi hari ini

Tapi begitu Bang Dodom yang mencoba, api langsung menyala-nyala dengan mudah. Kami semua terheran-heran, seolah-olah Bang Dodom adalah seorang pengendali api.

Melihat banyaknya darah, Santani menangis. Tiba-tiba saja di dalam dirinya ada sesuatu yang mendorong untuk dia harus menangis, walaupun tak tahu apa yang sedang terjadi. Setelah itu, Santani lari ke dalam rumah.

Tak hanya sekadar mendengarkan, aku pun diberi ruang dan kesempatan untuk mengisi salah satu agenda acara tersebut.

Rasanya mirip seperti dulu, saat di pondok: penuh dengan orang-orang random, tetapi tetap menyenangkan.

Yang menarik adalah, dalam setiap kenangan yang diceritakan oleh mereka yang merindukannya, selalu muncul hal-hal baik tentang Ka Salam—tentang kebaikan dan dedikasinya.

Aku belajar untuk lebih fleksibel menghadapi situasi yang tak terduga dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.

Ketika kehilangan seseorang, bukan berarti kita berhenti melangkah. Hidup harus tetap berjalan, dan kita harus mengikhlaskan yang telah pergi.

Salam sangat semangat dan meyakinkan kalau novel saya akan selamat sampai tujuan. Padahal saya tau dia belum tidur. Tapi matanya terus menyala, memeriksa bus dan nomor serinya. Hingga kemudian, “Itu busnya, Kang!” Alhamdulillah. Novel KML pun selamat. Salam pun istirahat. Selamat tidur, Abdul Salam.

Perjuangan Abdul Salam menjaga api literasi di Rumah Komunitas Rumah Dunia agar terus menyala sepanjang 2020-2024 patut kita acungi jempol. Bersama Diofani, isterinya, menghadapi Covid-19 antara 2020-2022, Rumah Dunia terus bertahan. Kita harus jaga dan terus nyalakan.

Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, di tahun 2017 lalu adalah orang yang paling berjasa dalam penerbitan buku puisi tunggal pertama saya, “Hujan Kau Selalu Begitu”, mulai dari editor, pembuatan cover, diskusi ini itu, hingga buku diluncurkan dan di bedah di Rumah Dunia, Serang, Banten, dalam rangkaian perayaan Hari Buku Dunia.

Berduka adalah hal yang wajar, tetapi cara menutup luka adalah sesuatu yang harus diupayakan agar kita tidak tenggelam dalam kesedihan.

Kamu pernah kehilangan orang yang spesial? Begitulah kami merasakannya. Namanya Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, meninggalkan kami dengan cinta yang nyalanya abadi di hati kami.a

Tugas saya dan teman-teman adalah membuat desain acara, termasuk dekorasi. Dengan dana yang terbatas, kami dituntut untuk memanfaatkan bahan yang sudah ada, seperti banner bekas dan kardus bekas.

Saya belum memiliki prestasi apa-apa di Rumah Dunia. Abdul Salam yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam komunitas Rumah Dunia.