Memang, sejak itu hampir tidak ada habisnya, saya masuk dan tergiring ke ekosistem dunia usaha (UMKM). Saya tidak menampik, bahwa rutinitas eksperimen usaha di TBM saya karena didukung oleh buku-buku yang saya miliki serta didukung aktif berselancar di internet. Karena bahan bacaan yang melimpah di TBM saya bisa mencari referensi yang bisa membuka wawasan saya. Contoh, jika saya ingin men-skill up pengetahuan tentang branding, saya tinggal cari bukunya. Jika bahan bacaan tidak tersedia, saya bisa mengandalkan internet. Mencari informasi dari internet adalah aktivitas intelektual seperti halnya membaca buku teks biasa.

Banyak yang bisa dilakukan di TBM, dengan buku melimpah membuat pengelola selalu terpacu mencari inovasi. Di TBM saya pernah menggeluti dunia menulis buku. Sayang sekali jika ketersediaan referensi yang ada di depan mata, kita tidak mencoba menjadi seorang Writerpreneur.
Saya belajar menulis buku dengan kemampuan menulis yang saya miliki. Saya mempelajari banyak genre kepenulisan, dan itu semua tersedia di TBM. Buku-buku yang saya terbitkan saya titip di toko buku di Manokwari. Buku-buku tersebut juga terjual, meski agak lambat lakunya. Tapi saya bisa menjual dengan berbagai cara, misal menjual secara online, dan langsung dari tangan ke tangan.

Pesan penulis senior seperti Kang Maman Suherman ILK selalu tergiang di telinga saya, “Teruslah menulis, buku-buku yang kita terbitkan punya kaki dan tangan sendiri mencari rezeki, kalau tidak di penjualan buku, bisa saja penulisnya diundang jadi pembica, dan itu juga dibayar,” demikian nasehat Kang Maman yang khas dengan kepala plontosnya.
Apa yang disampaikan Kang Maman memang bersinggungan dengan pengalaman saya ketika menekuni dunia menulis di Papua. Sebuah kesempatan langka dan mengagetkan menghampiri saya sekitar tahun 2018 lalu.

Suatu ketika Dinas Perpustakaan Kab.Teluk Bintuni mengadakan Workshop Menulis. Pada menjelang hari “H” pelaksanaan, tiba-tiba narasumber yang direncanakan dari Yogyakarta berhalangan hadir. Sehingga kondisi itu menjadi rezeki bagi saya. Panitia mengontak saya untuk menggantikan pemateri yang berhalangan hadir. Di Teluk Bintuni, ini menjadi pengalaman menerima honor paling besar yang pernah saya temukan selama menekuni dunia menulis.

Banyak sebenarnya pengalaman di TBM yang bisa berbuah value bagi pengelolanya. Bisa berbentuk uang, barang, atau pengalaman jalan-jalan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Keberadaan TBM adalah wahana yang penuh potensi. Banyak yang bisa dilakukan, terjun ke dunia UMKM sebagai bagian praktek Literasi Finansial juga sangat mungkin.

Saya telah mencobanya. Jangan biarkan buku anda berdebu di rak, ambil dia dan bacalah. TBM adalah wahana kawah Candradimuka yang membuka potensi yang anda miliki.
Tunggu apa lagi, setelah baca artikel ini langsung eksekusi dengan menulis, ya..!


