Resep Menulis ala Toto St Radik
Pertama, Membiasakan menulis setiap hari. Salah seorang penulis perempuan asal Amerika yang Toto sendiri lupa menyebutkan namanya, menganjurkan kepada siapa saja yang bermimpi atau berminat menjadi penulis agar membiasakan menulis setiap hari dengan konsisten menggunakan ballpoint dengan tidak mengangkat atau memberhentikan tulisan ditengah jalan, juga mengatur durasi yang mesti terus ditingkatkan. Misalnya minggu ini menulis 30 menit, selanjutnya 40 menit, dan begitu seterusnya.

Hal ini dimaksudkan untuk melatih koordinasi tangan, pikiran, dan hati secara bersamaan. Selain itu, ketika hal ini telah dilakukan secara konsisten seorang penulis bisa dengan mudah menyingkirkan godaan berselingkuh dengan percikan ide baru yang ingin segera ditulis ditengah proses memokuskan diri terhadap tulisan yang hendak kita rampungkan.
Benny Setia misalnya, ia hingga menyediakan tiga komputer—khusus puisi, cerpen, dan esai—untuk menulis beragam tema. Sehingga saat ide baru melesat datang ia bisa segera pindah pada komputer sesuai jenis ide yang muncul.

Kedua, Memesan tulisan. Memesan tulisan dilakukan oleh diri penulis sendiri agar si penulis mampu membuat jenis tulisan apa saja yang pasti suatu saat akan diminta oleh orang lain. Karena seorang penulis kerap diminta memberi endorsement atau kata pengantar untuk karya penulis lain.
Ketiga, Suplai energi menulis dengan ngemil membaca. Prihal pentingnya membaca untuk penulis sudah begitu popular, hampir bisa dipastikan tak ada satupun penulis yang tak pernah bersinggungan dengan bahan bacaan. Tapi ngemil membaca agak sedikit berbeda.

Membaca secara ngemil tidak cuma membaca tok rangkaian huruf. Namun mengunyah dan menikmatinya sehingga menjadi darah daging sipenulis. Dengan membaca ngemil pembaca mampu mengggenggam makna, merevisi, mengkritisi sekaligus menawarkan ide baru yang lebih baik dari apa yang telah dibacanya.
Demikian menulis dengan hati dan kaki yang saya maksud. Toto juga mengingatkan peserta majelis bahwa masa emas untuk produktif nulis adalah sebelum menikah atau saat masih lajang. Logikanya sederhana sebelum menikah seseorang cenderung memiliki banyak kebebasan untuk pergi kemanapun dan melakukan apapun untuk mencerap aneka persoalan untuk memperkaya bahan tulisan. Bagaimana misalnya Toto bercerita sengaja menabrak perempuan di tengah jalan sekadar ingin mengetahui secara empirik bagaimana respon ekspresi perempuan itu ketika ia tabrak. Apakah marah? Diam? atau ngomel-ngomel? Dan itu bisa menjadi bahan cerita penggambaran watak sang tokoh yang hidup ketika kita menulis. Akan berbeda misalnya seorang penulis yang hanya mereka-reka dan menebak-nebak kemungkinan.

Efek yang dirasakan oleh pembaca juga akan berbeda. Ibarat kita mendengar cerita orang yang secara langsung pernah mengalami dikejar anjing misalnya, dengan orang yang hanya mengarang-ngarang cerita, jelas ruhnya akan lebih kuat yang berdasarkan pengalaman empirik.
Terakhir saya ingin menulis penggalan-penggalan pernyataan Toto saat bicara di majelis yang mungkin menginspirasi teman-teman peserta majelis.

“Setelah menikah apalagi telah mempunyai anak tidak lagi mempunyai ruang kebebasan sebagaimana saat lajang. Diperintah istri saat menulis masih bisa bilang tanggung, tapi ketika mendengar rengekan anak meminta sesuatu selalu tak tega”.
“Menulis mengejar orientasi uang sekalipun, mesti dilakukan dengan hati. Itulah makanya saya selalu menjadi orang yang paling terakhir mengumpulkan karya saat ada proyek karya tematik yang dipesan Gol A Gong”.

“Saya umur 5 tahun semasa Sekolah Dasar telah mampu membaca Koran “Suara Karya”, dan “memaksa” kedua orangtua untuk segera menyekolahkan saya—meskipun masih ‘anak bawang’. SMP kelas 2 memesan buku-buku sastra kepada kakak saya yang tinggal di Bandung.

Ketika saya kelas satu SMA saya sempat berang menjumpai seorang guru yang tak bisa menunjukan kepada saya persoalan teknis cara mengirim karya ke media. Jangan-jangan Bapak tak pernah menulis dan mengirimkan karya, ujar saya saat itu”.
“Kata adalah senjata, menulis bagi saya adalah melepas gejolak jiwa”.
“Saya bukan penyair pesanan, walaupun dahulu banyak teman-teman saya yang meminta dibuatkan puisi untuk diberikan pada seseorang. Misalnya saya dapat uang, sepotong cokelat, atau ditaktir makan bakso” dan saya menginsyafi hal itu”.
“Terkenal tak dikenal. Dimuat tak dimuat, tak jadi soal. Yang terpenting adalah mengerahkan segenap kemampuan pengetahuan dan pengalaman empiris” *



