Cerpen “Keputusan Terakhir”, dari segi cerita tentang percintaan. Saya tidak menemukan alasan jelas kenapa orang tua Rian menolak cinta tulus dari tokoh “aku” (Karin). Dialog-dialog yang saling menjelaskan tentang perasaan cinta sejati mereka terus berhamburan.

Saya merasa tema “tubin” sekadar tempelan saja. Ini dijelaskan saat tokoh “aku” bercakap-cakap di HP dan keluarlah kalimat dari Rian – pacar tokoh “aku” (Karin) yang hendak menikah:
“Masih ada waktu empat hari, Karin. Bahkan jika di hari pernikahanku, kau datang dan memintaku pergi denganmu, seketika itu juga, aku akan ikut.”
Rian membatalkan pernikahan dan mengejar Karin yang bersiap terbang ke Kanada. Karin tetap teguh dan memilih pergi. Penulis harus hati-hati membuat cerita tentang pembatalan pernikahan dalam waktu 4 hari sebelum peristiwa besar itu terjadi. Di Indonesia, bahkan sudah mati pun masih dinikahkan di depan si mayat. Memang endingnya terkesan tragis, hanya saja logika cerita (plothole) harus tetap dijaga.
Sebetulnya endingnya menarik:
“Karin ….”
“Selamat tinggal.”
Aku mematikan ponsel. Membuka slot tipis di tepinya. Mengeluarkan sebuah micro-SIM Card.
Bersama kartu undangan dan selembar sketsa wajah, kartu mikro itu berakhir di tempat sampah, di dalam ruang tunggu yang dingin.
Aku mengusap pipi. Untuk pertama kalinya, aku tahu rasanya menangis.
***

