Cinta dan Gerakan Reformasi (1)

Di sebuah tangga batu yang dijadikan panggung orasi, mereka duduk berhimpun. Di setiap dinding berbahan batu, nampak aneka poster dengan beragam isinya tertempel. Kubaca dari kejauhan “Tolak Penggusuran Tanah Rakyat di Jatigede”, “Lawan Mafia dan Oknum Penguasa”, juga ada poster lain tertulis “Mahasiswa dan Rakyat Bersatu Lawan Keserakahan Penguasa” dan lain-lain.

“Lawan-Lawan, Lawan Penguasa, Lawan Penguasa sekarang juga!”, Demikian yel-yel peserta aksi yang terdengar jelas. Kawan-kawan mari kita rapatkan barisan, saatnya kita bersatu padu bela rakyat yang tanahnya digusur. Lahan mata pencaharian mereka yang hilang. Tolak proyek Waduk Jatigede yang jelas merugikan rakyat. Jelas ini harus kita lawan!”, terdengar orasi salah satu mahasiswa.

Aku kian terpana melihat semangat para mahasiswa itu. Aku masih berdiri di balik kaca masjid. Badanku makin bergetar. Ada terasa getaran aneh yang menghinggapiku. Getaran-getaran hati untuk ikut ambil bagian dalam keberpihakan terhadap rakyat yang ditindas. Aku ingin bersama para mahasiswa itu.

Tapi aku bukan siapa-siapa disini. Aku adalah anak baru yang baru masuk kuliah. Tidak mengerti apa-apa. Tak kenal juga dengan para mahasiswa-mahasiswa senior itu. Kepalaku masih plontos karena beberapa waktu lalu usai mengikuti Ospek.

“Mari kawan-kawan, kita akan ke Gedung Sate untuk menyuarakan aspirasi kita. Kita tolak pembangunan Waduk Jatigede “, Ajak kordinator aksi yang berambut gondrong itu dengan pengeras suara yang dipegangnya.

Para mahasiswa pun berdiri dan membentangkan spanduk penolakan waduk. Ada sekitar 50-an mahasiswa yang kompak mengenakan jas almamater berwarna biru langit. Waktu menunjukkan pukul 11 siang dan mereka perlahan menuju gerbang masuk kampus.

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di lantai 2 masjid kampus, seperti ada yang menggerakkan untuk turun ke arah gerbang kampus. Tapi aku hanya berdiam diri, masih mendengarkan orasi di pinggi jalan raya itu.

“Wahai para mahasiswa baru, inilah saatnya kalian menunjukkan keberpihakan pada rakyat yang tertindas. Jangan diam melihat kesewenang-wenangan dan kezaliman. Kalian harus jadi agen perubahan, jadilah pejuang rakyat!”, Teriak mahasiswa peserta aksi dengan suara yang lantang.
Aku terkesima mendengarnya, merinding atas orasinya yang menghujam. Hatiku kembali bergetar.
“Pilihannya hanya ada satu kata. Lawan!!” seru orator tadi melanjutkan.

bersambung ke bagian

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==