Ternyata tidak mudah menyimpan kertas-kertas ini. Sebagian sangat rapuh, seperti kue creepes tipis dan garing. Salah pegang dikit “terpoteque” kertasnya. Aku harus ekstra hati-hati menyusunnya. Segera saja anak lanang kuminta untuk memotret dan menyimpan hasil scan.

Sebenarnya cukup dokumentasi dalam bentuk digital, tapi aku tetap menyimpan bentuk fisiknya untuk disimpan di Museum Literasi Gol A Gong. Penyimpanan masih berupa tempel sana sini semampu kami.



Saat mengurusi kenangan-kenangan ini hubby bercerita begitu banyak orang baik yang membantunya melewati perjalanan. Salah satunya adalah almarhum Bens Leo, seorang dengan nama besar tokoh permusikan dan penulisan di negeri ini. Tenang dan damai di sana, Mas Bens. Surga untukmu.


