Ya, banyak pertanyaan saat aku kecil hendak makan. “Pak, Emak, dari mana ini ikan?” Biasanya mereka menjawab: dari pasar. Jawaban itu tida memuaskanku. Aku cari jawabannya dengan berlari ke pantai, ke muara. Bacalah puisiku ini:

Gol A Gong
ASAL MUASAL IKAN
ketika kecil emak mengajak makan
di meja makan terhidang nasi ikan
saking semangat lupa berkah doa makan
tandas sudah tinggal tulang ikan
ikan dihidang di meja makan
tak tahu jalan dari mana datang ikan
emak ingatkan asal mula ikan
dari laut hingga meja makan
tak tahu asal mula ikan
perut lapar langsung saja makan
lambung kembung rakus makan
tak tau siapa menanam ikan
ke laut nelayan lupa makan
ke laut nelayan cari ikan
ke laut nelayan tak dapat makan
ke laut nelayan tak makan ikan
: hey, buat siapa ikan di meja makan?
*) Serang, 7-02-2008- Foto nelayan Pixabay
Aku muda sering menghabiskan waktu bersama nelayan. Aku mencoba makan ikan dengan cara menyayanginya. Aku pernah menulis buku puisi “Dunia Ikan”. Aku ingin menemani nasibnya walaupun tidak mampu mengubah nasibnya. Seperti dongeng, ya. Pernah ada kisah seorang menteri kita yang membumihanguskan kapal pencuri ikan di laut kita. Sayang nasib menteri itu tidak lama.
Baca juga puisi-puisi Gol A Gong lainnya di sini.




