Puisi itu ditulis Tias Tatanka di Serang, 20 Agustus 1986, sebulan setelah resmi jadi istri saya. Puisi itu kemudian menghantui saya. Pelan-pelan, apa yang Tias tulis di puisi itu, kami wujudkan sama-sama di sebidang tanah seluas 200 M2 di kampung bernama Ciloang – persis di halaman belakang rumah
Pohon lengkeng, saya tanam. Pohon mangga juga.
Puisi Rumah Kita tentang Banten
















