Balada Si Roy: Novel Psikologi Remaja

Bagi orangtua, novel ini akan menjadi semacam “buku psikologi remaja” yang akan memandu para orangtua, bagaimana cara bijak memahami dan memperlakukan gejolak masa remaja dengan segala kompleksitasnya. Sementara bagi remaja, novel ini akan membangkitkan semangat untuk menempa diri menjadi manusia dewasa yang penuh tanggungjawab dan punya rasa peduli.

Novel ini berkisah tentang seorang remaja bandel penuh sensasi bernama Roy. Celana jeans belel, jaket levis, kalung dog tag, serta anjing herder warisan ayahnya akan mengajak kita berpetualang menjelajahi labirin persoalan sosial. Roy yang pindah dari Bandung dan sekolah SMA di Kota Serang harus berurusan dengan Dullah dedengkot geng Borsalino lantaran menggodai Ani si Dewi Venus yang dicintai oleh Dullah. Dari sini kita bisa membaca proses perkembangan Kota Serang dalam menghadapi “penetrasi zaman” yang dalam bahasa Gol A Gong disebut 3 F Revolutions (Food, Fashion, dan Fun) yang merangsek memengaruhi para remaja.

Di bab awal, Gong membeberkan bagaimana orang-orang Banten yang ingin maju mesti merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, lantaran tahu di Banten akan sulit berkembang. Hal ini mengingatkan saya pada pepatah yang menyatakan “lebih baik menjadi ikan teri di lautan, ketimbang jadi ikan paus di dalam kubangan,” Gong pun menyayangkan orang-orang Banten yang ia sebutkan, setelah sukses tidak terpanggil untuk kembali ke Banten “membesarkan” kampung halamannya.

Di balik cerita petualangan yang mendebarkan, Gol A Gong sebagai pengarangnya dengan piawai mampu memasukkan pelbagai unsur yang memperkaya wawasan pembaca. Dari mulai kilasan peristiwa sejarah, judul-judul film bagus di zamannya, pengetahuan tentang musik, pentingnya olahraga, judul buku-buku sastra yang perlu kita baca, quote-quote yang menggerakkan, hingga penanaman nilai-nilai karakter, yang tersebar di sekujur halaman novel yang mengalir indah tidak tercebur menjadi semacam teks khutbah yang menggurui dan membosankan.

Bagi saya, novel ini merupakan pernyataan sikap penulis terhadap gempuran arus globalisasi serta perlawanannya terhadap sikap primordial masyarakat Banten. Orangtua Dullah yang digambarkan sebagai tokoh jawara serta idiom “Sadigo (salah dikit golok)” sangat mudah kita tebak ditujukan kepada siapa. Beruntung keluarga jawara tersebut rupanya buta literasi (iliterat) sehingga tidak menyadari Gol A Gong tengah melakukan perlawanan lewat jalur sastra yang efeknya telah menggerakkan banyak orang yang terinspirasi setelah membaca novelnya.

Ali Soero ikut berakting saat Roy dan Dullah duel

Roy sebagai artikulator, mengingatkan kita bahwa musik dan film sangat berpengaruh kuat terhadap perkembangan prilaku remaja. Dan bagi Roy kemajuan atau perkembangan zaman tak jadi persoalan dan tak mungkin kita hindarkan, melainkan meski kita hadapi dengan tegar dan penuh kesiapan. Salahsatu opsi yang ditawarkan Gol A Gong melalui Roy adalah mengkampanyekan pentingnya “menggenggam” buku dan olahraga sebagai bekal. Bagaimana Roy selalu membawa buku-buku diranselnya dan kerap meminjamkannya kepada teman-temannya, juga support Roy kepada atlit badminton si dark sweet lady bernama Ongky yang baru ia kenal.

Roy dan Ani akan jadi legenda seperti Romeo dan Juliet

Mengenai pentingnya buku atau bacaan bermutu, simaklah pernyataan Gol A Gong berikut yang dititipkan melalui jalan pikiran tokoh Roy saat mengetahui Ani si dewi Venus ternyata doyan baca; Selama ini orang-orang cuma memberi makan dari tenggorokan, masuk ke perut, terus berakhir di toilet. Berbeda jika kita memberi makan kepala dengan asupan buku yang kaya nutrisi. Otak kita tidak kosong, saat berbicara juga berisi. Pepatah “you are what you eat, you talk what you read” (h. 153)

Sementara dari tokoh Ibu Roy, kita bisa mengenal prototype orangtua bijaksana yang membesarkan anaknya dengan limpahan kasih sayang dan kepercayaan. Sehingga sebandel apapun si Roy seakan selalu ada yang mengeremnya agar tidak nyelonong menabrak batas. Nakal boleh asal ada batasnya. Pacaran adalah cara mempelajari alat reproduksi. Mengenalkan seks sejak usia remaja. Jangan tabu membicarakan seks (h. 151). Begitu penegasan Gol A Gong.

Dari tokoh Roy, kita belajar sikap humanisme dan kepekaan sosial. Bagi Roy, Hidup adalah perjuangan tanpa henti, segala masalah atau penderitaan yang datang menghampiri tak boleh membuat kita lemah, justru menjadi suluh yang akan mematangkan jiwa kita untuk lebih tegar dan bijaksana lagi mensyukuri kehidupan. Kita simak misalnya nasehat ibunya Roy yang mengatakan bahwa kebahagiaan harus diperjuangkan, bukan dengan cara mengemis minta belas kasihan, rendah diri, dan pasrah nasib (h. 157).

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==