Sementara pandangannya terus fokus ke jendela pesawat, pikiran lelaki itu mengembara kemana-mana. Ia kembali mengingat-ingat pesan orang dermawan (yang menanggung semua biaya perjalanannya study tour tiga hari dua malam di Singapore) sehari sebelum berangkat. “Bepergian ke luar negeri bukanlah impian, melainkan mempertegas mimpi yang ingin kita gapai…”

Tanpa sadar lelaki itu mengamini pesan tersebut. Menyaksikan pasangan keluarga sesama rombongan yang membawa serta anak-anaknya yang masih kecil-kecil, membuat lelaki itu bertekad dalam hatinya, kelak ia harus mampu membawa istri dan puterinya ke luar negeri. Syukur-syukur bisa menyediakan panggung untuk oranglain sebagaimana orang dermawan yang memberangkatkannya.

Kadang lelaki tersebut geli sendiri bila mengingat segala kekonyolan yang ia lakukan dengan rekan sesama rombongan Gong Travelling. Dari mulai berbicara memakai bahasa daerah saat membeli makan kepada penjaga resto yang tak bisa berbahasa Melayu dan Inggris, menirukan logat dan dialek obrolan orang-orang China, hingga berlaga berjalan cepat menyalip sesama teman di eskalator sambil mengucapkan excuse me seperti warga Singapore yang sangat sibuk.

Perjalanan singkat di Singapore telah memberikan pengalaman sekaligus pelajaran berharga bagi lelaki tersebut. Lelaki tersebut sangat kagum dengan kesadaran warga Singapore dalam menaati aturan-aturan yang berlaku.

Selama tiga hari dua malam tak pernah ia mendengar bunyi klakson kendaraan satu kali pun. Traffic light berfungsi dengan efektif meski tak ada seorang petugas kepolisian pun yang berjaga di tepi jalan, tak ada pengendara yang nyerobot lampu merah. Pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan bisa melintas dengan tenang. Jejeran tempat sampah begitu mudah ditemukan, semuanya serba bersih dan tertata dengan baik.

Lelaki itu teringat film Merry Riana yang ia tonton sebelum berangkat ke Singapore. Wajar saja jika di pembuka adegan film Merry Riana, ayahnya Merry Riana berkata, “Berangkatlah ke Singapore, di sana kamu lebih aman meskipun sendirian.”

