Sambil terus memandang ke arah jendela pesawat, telapak tangan kanan lelaki tersebut menyentuh kaca jendela yang tampak mengembun dingin, rupanya cuaca tengah hujan. Hal itu menarik ingatannya ke kawasan Little India tepatnya di masjid Angullia Singapore yang tak begitu luas namun menyejukkan. Di masjid itu setiap kamar mandi disediakan sandal jepit, tempat wudhu dibuat umpak-umpak sehingga setiap jamaah bisa berwudhu sambil duduk, di samping masing-masing kran wudhu terdapat sabun, ranting siwak, serta ada tempat khusus air (drinking water) yang bisa diminum langsung dalam keadaan panas maupun dingin.

Di masjid tersebut lelaki itu mengingat pertemuannya dengan Pak Ahmad – warga Singapore keturunan Melayu yang menegurnya saat memotret suasana masjid, dan menolaknya saat ia meminta foto bareng. Serta perjumpaannya dengan mas Adit mahasiswa Universitas Telkom Bandung asal Semarang yang mengaku tujuannya ke Singapore untuk bertemu dengan rekan bisnisnya bernama Syarif yang menurut Adit merupakan salahsatu artis Singapore.

“Luar biasa, masih mahasiswa sudah berupaya mengembangkan bisnisnya hingga lintas negara, sementara saya bisa apa?” guman lelaki tersebut dalam hati.

Sedang asyik melamun mengingat-ingat keunikan masjid sambil memandangi awan gemawan yang kembali cerah, terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Lelaki tersebut kian memfokuskan pandangannya ke jendela pesawat. Di bawah sana mulai terlihat titik-titik cahaya. Ternyata hamparan bumi pertiwi begitu luas jika dibanding dengan Singapore. Kian rendah pesawat, kian jelas titik-titik cahaya tersebut merayap lambat.

“Itulah mungkin kemacetan yang terjadi di jalanan ibukota,” pikir lelaki tersebut. Ia pun sempat berkelakar kepada teman disampingnya “Jika dilihat dari atas sini kita yang sedang berada di bawah tentu begitu sangat kecil. Untung malaikat nggak pernah keliru atau salah sasaran dalam mencabut nyawa atau memberikan jatah rejeki. Kalau sampai keliru atau salah sasaran, bisa gawat.”

Begitu tiba di bandara Soekarno-Hatta, saat tengah berjalan hendak ke mobil travel menuju Serang-Banten, lelaki itu disambut banyak lelaki yang menawarkan jasa antar. “Inilah Indonesia yang ramah tamah biasa bertegursapa, berbeda dengan warga Singapore yang sepi dalam keramaian. Mereka lebih memilih asyik dengan gadget masing-masing, ketimbang mengobrol dengan sesama teman. Bahkan di Bugis Jungtion (yang sering orang sebut sebagai tanah abangnya Singapore) tak seriuh pedagang di Indonesia saat menawarkan barang dagangannya,” pikir lelaki tersebut.

Sepanjang perjalanan Jakarta-Serang dirasakan oleh lelaki tersebut begitu lambat, kontras dengan kereta MRT di Singapore yang sangat cepat. Lelaki tersebut ingin cepat sampai di rumah untuk berbagi cerita kepada istrinya. Bukan tentang Merlion, Universal Studio, China Town, atau Little India yang menjadi magnet banyak pengunjung untuk berfoto-foto. Lelaki itu hanya ingin bercerita tentang eloknya perpustakaan di Singapore, moda transportasi, sistem tata kota, ketertiban lalu lintas, desain arsitektur, keberadaan ruang publik, kesadaran masyarakat dalam menaati aturan, sense of art pemerintah Singapore yang tinggi, efektifnya pemanfaatan teknologi dan informasi, dan ada banyak hal yang ingin segera ia ceritakan kepada istrinya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==