Selama tiga hari dua malam banyak pelajaran yang lelaki itu serap. Dua malam menginap di Singapore ia berkesempatan ngobrol banyak hal dengan Gol A Gong – guru sekaligus orangtua ideologis bagi lelaki tersebut. Tentang proses kreatif menulis, tentang pola pengasuhan anak, membina keluarga. Memetakan mimpi-mimpi yang hendak digapai, dan banyak lagi.

Perjalanan untuk pertama kalinya ke luar negeri tersebut, telah memperkuat kecintaan lelaki tersebut kepada Indonesia. Apalagi saat ia bertemu dengan Kim Hyung Ju di Bandara Changi saat hendak kembali bertolak ke Indonesia. Mahasiswa asal Korea yang mengambil studi Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Universitas Indonesia tersebut, saat ditanya bagaimana ia menilai Indonesia, Ia mengaku sangat mencintai Indonesia. Meski pertama kali ke Indonesia ia mengaku sempat kecopetan di bus, tapi menurutnya Indonesia sudah seperti pacar yang dicintai, meski kadang menyakiti dan menjengkelkan namun tetap dirindukan.

Meskipun menurut pak Ega Jalaluddin (Ketua Bina Persaudaraan Indonesia) kepada lelaki tersebut itu hanya pendapat gombal si Kim agar aman berkomunikasi dengan orang Indonesia, namun kecintaan lelaki tersebut bukan lantaran penyataan si Kim. Melainkan tempaan dan asuhan negara Indonesia dalam melatih ketahanan mental setiap warganya membuat warga tersebut akan nyaman saat melancong ke luar negeri.

Bagaimana tidak, saat di Indonesia lelaki tersebut mesti senantiasa mengaktifkan radar kewaspadaannya jika hendak melakukan perjalanan baik mengendarai motor sendirian maupun menaiki angkutan umum, bukan saja terhadap ancaman tertabrak pengendara lain yang kurang disiplin, juga ancaman copet dan aneka kreativitas kejahatan lainnya seperti hipnotis dan bius.

Di Singapore lelaki tersebut bisa melenggang dengan nyaman meski hanya berkaos oblong merek sowang dan celana pendek. Di kereta MRT ia tak perlu mencurigai orang-orang sekeliling, tak perlu menjagai tas atau barang bawaan. Saat nyasar tak perlu panik, cukup membaca rambu-rambu.

Begitulah sepenggal pengalaman lelaki tersebut yang dapat saya ceritakan di sini. Semoga kelak kita bisa membaca pengalaman perjalanannya berikutnya ke negeri-negeri yang lebih jauh. Amiin. *



