Cinta dan Gerakan Reformasi (3)

Setelah mengisi form dan penyerahan persyaratan, oleh panitia dinyatakan lengkap dan selanjutnya diberi tahu untuk jadwal seleksi yang direncanakan pada pekan yang akan datang. Disarankan sebelum hari pelaksanakan ujian, untuk survey lokasi ujian pada hari sebelumnya karena lokasi ujian tersebar di beberapa sekolah negeri di Bandung.

Selesai pendaftaran, aku pamit meninggalkan ruangan PMB. Sambil berjalan menuju gerbang utama, aku merasa seolah-olah seperti sudah menyandang mahasiswa di kampus negeri tertua ini. Dulu Soekarno pernah kuliah disini, aku sangat bangga sekali bisa kuliah di kampusnya sang proklamator dan presiden pertama Indonesia.

Karena masih ada waktu dan belum gelap, aku sempatkan untuk melihat gedung fakultas seni rupa. Luar biasa gedungnya, banyak sekali ornamen seni, ada banyak lukisan, pahat patung, dan lain sebagainya.

Saking semangatnya melihat-lihat gedung fakultas seni, hari pun mulai gelap. Sudah pukul setengah enam lewat. Sebentar lagi datang adzan magrib. Aku masih di dalam komplek kampus yang luas sekali.

Aku bergegas untuk keluar dari area kampus. Satpam melihat gerak gerikku seperti orang yang baru lihat gedung yang megah itu. Iya aku orang kampung yang selalu takjub melihat gedung megah. Seandainya aku nanti diterima di kampus ini, oh alangkah bahagianya diriku ini.

Di luar kampus, sudah mulai gelap. terdengar suara adzan magrib. Aku pun menuju Masjid Salman yang lokasinya di seberang kampus ITB dan ikut sholat secara berjamaah.

Setelah sholat magrib. Aku bingung sendiri. Sebab takut tidak bisa pulang. Uang yang ada hanya cukup untuk ongkos. Aku mulai khawatir dan mencoba untuk tetap tenang. Aku duduk mematung menghadap kampus. Lalu lalang orang mulai sepi. Lampu temaram karena terhalang pepohonan yang besar nan lebat. Hawa dingin makin terasa. Aku pun belum beranjak dari tempat duduk di pinggir jalan.

Aku buka dompetku, hanya tinggal beberapa lembar rupiah. Kalau aku paksakan kembali ke terminal belum tentu juga ada bus yang menuju tempat tinggalku, Cikarang. Aku semakin tak tenang.

Perut pun mulai keroncongan sebab sejak dari terminal Leuwipanjang, belum diisi nasi hanya sekedar makan gorengan dan minuman mineral. Sebab uangku hanya untuk ongkos pergi dan pulang dan untuk biaya pendaftaran.

Malam semakin gelap. Terdengar suara adzan petanda sudah datang waktu Isya. Aku tak ke masjid lagi sebab sudah di jama dengan sholat magrib. Suara serangga malam perlahan mulai terdengar dari balik pohon yang besar-besar itu. Makin lama makin ramai saja suaranya seperti sedang mengejek aku yang sedang kebingungan.

“Hei adik, dari tadi saya lihat, duduk sendiri aja. Seperti orang kebingungan. Emang adik ini dari mana?” tiba-tiba ada seseorang yang menegurku. Aku terkejut dan kikuk untuk menjawabnya.

Aku lihat seperti seorang ustad, berjenggot tipis dan berbaju jubah. Dalam hati mungkin ini pengurus masjid. “Iya, ini saya bingung mau pulang takut kemalaman. Rumah saya jauh di daerah Bekasi harus naik bus pulangnya,” jawabku terbata-bata.

“Oh, gitu, yah. Emang adik di sini tidak punya saudara atau teman?” tanya orang itu.

“Ada teman kakak saya. Tapi saya tidak tahu tempat tinggalnya. Kata kakak saya, temannya itu masih kuliah di IAIN Bandung,” jawabku.

“Kalau itu mungkin tinggalnya di dekat kampus. lumayan jauh dari sini. Tapi masih ada angkot yang ke sana. Di daerah Cibiru,” ujarnya lagi padaku.

“Iya, kalau begitu saya nginap di sana saja. Saya sudah dikasih nomor telpon kosannya, dapat dari kakakku. Nama temannya Abung,” tutur aku dan hati mulai agak tenang.

“Iya, baiknya di telepon aja dulu. Ngomong-ngomong adik sudah makan belum?” tanyanya padaku.

Aku diam. Kepalaku menunduk lesu. Memang benar aku belum makan.

“Ee, saya, saya belum makan dari siang, Mas,” jawabku terbata-bata. “Tapi, makannya nanti aja kalau saya sudah ketemu teman kakakku,” jawabku untuk tidak memberi kesempatan orang itu menawarkan makan.

“Baiklah, kalau begitu. Semoga bisa segera bertemu dengan teman kakakmu, tadinya saya mau menawari makan untuk adik,” kata orang itu.

“Iya, tidak apa-apa. Saya pamit dulu mau cari wartel untuk telepon teman kakakku,” jawabku dengan ragu sambil menahan perih di perutku. Oh!

Bersambung ke bagian 4

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==