Dalam upaya menjaga konsistensi hafalan Qur’an, seorang hafidz – begitu sapaan bagi penghafal Qur’an, mempunyai kewajiban agar menyempurnakan bacaannya. Berbagai usaha untuk mempertahankannya, salah satu cara yang lumrah di pakai yakni dengan metode Muroja’ah. Menurut harfiah muroja’ah berasal dari bahasa arab roja’a yarji’u yang bermakna kembali. Adapun menurut istilah yaitu mengingat ulang.

Muroja’ah adalah merepetisi mahfudz agar tidak lalai dan salah. Muroja’ah merupakan ikhtiar seseorang agar istiqomah terhadap apa yang sudah diperoleh. Sebelum lanjut ke level selanjutnya, menambah jumlah hafalan yang disetorkan (ziyadah) ke ustadz atau ustadzah. Adapun jenis muroja’ah terbagi menjadi 2 yakni :
1.Murojaah Bin nazhar
Yakni mengulang bacaan dengan melihat naskah (mushaf) Al-Qur’an. Teknik ini sangat baik guna memperbaiki makhrorijul huruf dan tajwid, yang terkadang terlupa sehingga kurang tartil. Tartil artinya tertib, kehati-hatian, tidak tergesa-gesa. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat Almuzzammil ayat 4
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
” Atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”

Metode ini hampir serupa dengan tilawah, memberikan keleluasaan dalam membaca karena bisa melihat langsung teks bacaan yang di kehendaki. Pada pelafadzan yang nyaring membuat saling menyimak antar teman. Sangat mudah dilakukan oleh siapapun pun tidak menimbulkan beban adanya kesalahan dalam pengucapan. Pola ini merupakan evaluasi belajar sebagai tolak ukur guna menentukan kefasihan membaca Al-Qur’an.
2.Muroja’ah Bil Ghoib
Yaitu mengulang hafalan tanpa melihat teks. Cara ini membutuhkan konsentrasi penuh, melatih seseorang sampai dimana penguasaan bacaan yang di hafalnya. Hafalan disetorkan kepada guru ngaji maupun rekan sejawat untuk mengoreksi keabsahan bacaan sebagai upaya monitoring kesesuaian bacaan Qur’an yang di lantunkan Sebagai ajang latihan yang menjadi barometer tingkat kejelian penghafal bagaimana penguasaan akan bacaan.

Murojaah bisa di lakukan dimanapun, kapanpun tanpa kenal batas dan waktu. Ada yang berkelompok ada pula yang mandiri, baik Ikhwan ataupun akhwat. Murojaah berkelompok akan menumbuhkan motivasi yang tinggi terlebih jika temannya sudah memiliki hafalan di atas rata-rata akan memacu semangat jangan sampai tertinggal lebih jauh. Sedangkan murojaah mandiri jauh lebih nyaman tanpa ada gangguan suara lain. Murojaah bersama-sama dapat meminimalisir rasa jenuh dan bosan. Setiap style tergantung karakteristik individunya senang bersama-sama ataukah mandiri. Makin sering bertambah bagus.


