Ketika awal-awal membaca ‘Balada Si Roy’ karya Gol A Gong, kakakku pernah berkata, “Coba kamu temui Gol A Gong. Diskusi. Belajar langsung dari dia.” Aku mengernyit. Menemui Gol A Gong? Bagaimana bisa? Aku cuma anak SMP di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yang membaca tulisan Gol A Gong di majalah HAI. Berdiskusi dengan Gol A Gong jelas sesuatu yang muluk.

Lagi-lagi hidup memang penuh misteri. Ternyata aku bukan saja bertemu Gol A Gong. Siapa nyana, aku malah bersahabat dengannya. Saling mempromosikan karya. Melakukan perjalanan bersama. Tidur sekamar, bahkan satu ranjang dengannya. Juga ngopi berdua di sebuah kedai kecil di pojok Singapura. Hidup memang tak mudah diduga.
Seperti halnya naskah Pramoedya, kini aku pun menyunting naskah Gol A Gong. Bahkan menerbitkannya. Ketika menyunting naskah GONG SMASH!, barulah aku menginsafi mengapa aku bisa bertemu Pramoedya dan Gol A Gong―sesuatu yang dulu kuanggap tidak mungkin. Karena naskah GONG SMASH! menyiratkan satu hal: asal kamu mau, pasti bisa!



Ibaratnya seorang samurai dengan jalan pedangnya, Mas Gong bukan hanya menjadi Musashi di dunia penulisan, namun juga mengajarkan dan menurunkan ilmunya serta bergerak dan membangun peradaban menulis kepada generasi muda. Bersama teman-temannya, melalui Rumah Dunia, juga melalui Forum TBM. Menjadi Duta Baca Indonesia 2021-2025 adalah salah satu bukti pengakuan semua kalangan.
Terima kasih, Kang Agus. Semoga Kang Agus juga meraih impiannya, melahirkan banyak buku dan menjadi guru yang sukses.