Saya kira tujuannya adalah untuk memotivasi masyarakat kita dan pengingat bahwa masih banyak masalah mengenai pentingnya literasi di tengah masyarakat dunia. Terutama di Indonesia, agar kita semakin bersemangat untuk maju dan menolak dihakimi lembaga PISA (Programme for International Student Assessment), bahwa kita adalah bangsa yang rendah minat bacanya itu jangan lagi menghantui kita. Itu akan membuat kita rendah diri.

Abaikan saja penghakiman itu, karena budaya membaca kita trendnya sedang bagus sekarang. Komunitas baca bertumbuhan. Buku-buku konvensional diterbitkan dan dijual dengan cara pre order. Platform digital dengan beragam jenis tulisan digandrungi, bahkan dialihwahanakan ke film.


Justru yang terjadi UNESCO mengingatkan kita, bahwa sebaiknya 1 orang Indonesia membaca 3 judul buku dalam setahun. Sedangkan Perpusnas RI menyodorkan angka: di pulau Jawa, 1 buku ditunggu 90 orang sedangkan di Indonesia Timur, 1 buku ditunggu 1500 pembaca. Apa yang harus kita lakukan? Menulis buku sebanyak-banyaknya. Seperti kata Edi Wiyono, Pemred Perpusnas Press, “Tuliskan, terbitkan dan sebarkan.”

Upaya Perpusnas RI dalam memperpendek kesenjangan itu adalah berkolaborasi dengan sebanyak-banyaknya komunitas untuk menjalankan program peningkatan mInat baca dan tulis. Mulai dari “Inkubator Literasi”, yang keliling Indonesia mendorong tumbuh dan berkembangnya penulis di daerah. Kemudian Perpusnas Writers Festival yang digelar sejak 2021 dan 2022 di gedung Perpusnas RI, Merdeka Selatan, Jakarta. Terkini mulai 6 hingga 8 September Perpusnas Writers Festival 2023 di gedung Konferensi Asia Afrika dan De Majestic, Braga, Bandung.



