Ketika saya bersama 3 asisten melakukan Safari Literasi Jawa-Bali-NTB-NTT pada 19 Januari hingga 10 April 2022, kami menemukan 3 persoalan di lapangan yang menyebabkan kenapa masyarakat dan negara kita ini dianggap lambat merespon perkembangan literasi dunia.

Pelepasan Safari Literasi Duta Baca Indonesia – Perpusnas RI, 19 Januari 2022. Muhamaad Syarif Bando sebagai Kepala Perpusnas RI menyerahkan kunci mobil untuk digunakan sebagai mobil operasional Duta Baca Indonesia kepada saya.

Persoalan pertama yang kami temukan, Kepala Dinas di daerah yang merasa dibuang di masa akhir pengabdiannya sebagai ASN ke Dinas Perpustakaan, sehingga tidak memotivasi para pustakawannya untuk melakukan terobosan program yang inovatif, kreatif, dan edukatif. Padahal Perpusnas RI sudah merevitalisasi dirinya sebagai Perpustakaan berbasis inklusi sosial. Para pustakawannya harus memotivasi para pemustakanya agar mendapatkan manfaat atau dampak positif dari kegiatan membaca. Mengutip Muhammad Syarif Bando sebagai Kepala Perpusnas RI, “Kegiatan membaca harus menghasilkan produk barang dan jasa.”

Pocadi – Pojok Baca Digital – di Kabupaten Borong, NTT, saat Safari Literasi Duta Baca Indonesia – Perpusnas RI, Maret 2022

Kedua, akses ke perpustakaan yang sulit. Terutama di luar Jawa, Indonesia bagian timur. Perpusnas RI menyebarkan Pocadi atau Pojok Baca Digital ke seluruh pelosok Indonesia agar masyarakat luas bisa dengan mudah membaca di perpustakaan. Pocadi adalah perpustakaan ini dengan 1 rak buku besar berisi  1500 eksemplar buku terdiri dari 500 judul, masing-masing judul 3 eksemplar. Tiga laptop atau computer, 1 TV monitor, dan jaringan internet. Perpusnas RI juga menyalurkan Dana Alokasi Khusus untuk membangun gedung perpustakaan yang megah dan mewah dengan arsitektur kontemporer. Ruangan-ruangannya yang bervariasi; ada ruangan pelayanan, ruangan ramah anak, mini teater untuk pemutaran film, ruangan untuk diskusi literasi atau bedah buku, ruangan multi media, dan tentu ruang baca yang nyaman.

Permasalahan ketiga adalah distribusi buku yang tidak merata. Fakta yang ada, bahwa 1 buku ditunggu 1500 pembaca untuk luar Jawa masuk akal. Saya pernah mengirimkan buku dengan biaya pengiriman Rp. 125.000. Padahal harga bukunya Rp. 50.000. Itu sebabnya saya bekerja sama dengan Gramedia, Mizan, Elex Media, Zikrul Hakim, dan Agro Media meluncurkan program unggulan “Hibah Buku Nusantara”. Kami pernah mengirimkan 150 kilo buku ke Kupang, 100 kilo ke Larantuka, 15 kilo ke Maluku, 100 kilo ke Kalimantan Timur, dan 100 kilo ke Kepulauan Riau. Jasa pengirimannya didukung oleh Titipan Kilat Kota Serang dan Angkasa Pura 2.

###

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==