Irul masuk ke dalam rumah.

“Kamu dari mana? Sudah hampir maghrib. Seragam sekolahmu kotor begitu,” ibunya mengikuti.

Terdengar suara adiknya sedang mengaji  surat Al Mulk di ruang tengah sekaligus jadi ruang makan, ruang belajar, jadi tempat Ipul, bahkan dus-dus dagangan warung ibunya. Langkah kakinya yang diseret  menimbulkan suara “srek, sreeek, sreeek…”

       “Ibu, Ibu!” Irul berteriak memanggili.

“Iya, Ibu di sini,” ibunya menepuk pundak Irul. “Nggak usah teriak-teriak begitu. Malu sama tetangga.”

       “Kakak, berisik!” Rini kesal, berhenti mengaji.

       “Anak kecil! Diem lu!” Irul tidak peduli.

       “Bu, Ibuuuuu! Kak Irul gangguin Rini ngaji!” Rini mengadu.

       “Lu tuh yang berisik! Teriak-teriak!”

       Ibu mereka – wanita berusia 40 tahunan, duduk di sebelah Rini, yang menggelayut manja walaupun sudah di kelas 1 SMA.

       “Kenapa, Rul?” wanita itu mengelus rambut Rini.

       “Irul butuh lima ratus ribu untuk biaya study tour ke Jakarta, Bu! Besok pagi harus lunas!”

       Si Ibu menarik napas, terdengar berat suaranya. Dia bangkit dan duduk di kursi sambil membuka kotak kayu. Wajahnya menerawang, “Tadi yang belanja ke warung sedikit, Rul. Nggak ada uangnya.”

       Irul kesal ketika ibunya menghitung uang dari dalam kotak kayu. Dia merebut kotak kayu dari ibunya. Rini menghalangi.

“Kakak!” Rini berusaha mengambil kembali kotak kayu itu. “Jangan, Kakak! Uang ini buat modal warung Ibu!” Rini berhasil mengamankan kotak kayu itu.

       Irul mundur dan menyender ke tembok. “Irul pingin pinter, Bu. Tahun depan Irul lulus SMA. Irul pingin dapat beasiswa. Nerusin kuliah nggak usah ikut test. Handphone aja Irul nggak punya. Irul ketinggalan sama temen-temen.”

       “Baik,” ibunya berjalan ke kamar yang hanya ditutupi gorden dari kain batik.

       “Kakak itu gimana, sih? Bisa kan ke perpustakaan! Di sana buku-bukunya lengkap. Kita juga bisa akses internet! Kasihan Ibu! Sejak Bapak meninggal, Ibu banting tulang buat kita!”

       “Ah!” Irul memukul tembok.

       “Kakak nggak pernah tau kan, bagaimana Ibu ngatur uang buat makan kita, buat bayar kontrakan, buat muterin modal warung! Kakak bisanya cuma main aja!”

       “Sok tau lu! Kakak nggak main! Kakak sibuk di OSIS!”

       Gorden kamar terbuka. Ibunya muncul dengan kain kebaya, rambut terurai, bibir dipoles gincu merah, bedak tipis di pipi, tas kecil ditenteng.

       Irul terpana, “Ibu?”

       “Ibu cantik sekali. Ibu mau ke mana?” Rini tidak percaya.

       “Kalian sejak dulu nggak setuju kalau Ibu jadi isteri keempat Haji Sobirin. Sekarang Ibu mau ke rumah Haji Sobirin! Ibu terima lamarannya. Demi masa depan kalian!” *

*) Pantai Metina, Ba’a, Rote Ndao, 29 Mei 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==