Duduklah di peron. Pandangi rel kereta. Apa yang kamu rasakan ketika orang-orang duduk di ruang tunggu. Akankah kereta datang?
Puisi Gol A Gong: Kereta

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Duduklah di peron. Pandangi rel kereta. Apa yang kamu rasakan ketika orang-orang duduk di ruang tunggu. Akankah kereta datang?

Aku selalu senang mengutip Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca!” Maka aku pun menulis kisah hidupku agar orang-orang bisa bercermin dari kisahku. Ini kusadari betul, bahwa hidupku terdiri dari banyak kisah. Orang-orang sering iseng bertanya, “Jika kamu sekarang berlengan dua, apa yang akan kamu lakukan?”

Secara keseluruhan, puisi ini bermain dengan citra sejarah, budaya, dan modernitas yang berpadu dalam satu lanskap kota Manado. Ada rasa nostalgia dan refleksi tentang bagaimana perubahan zaman berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Puisi ini adalah refleksi mendalam tentang kehidupan, waktu, dan nasib. Waktu terus berjalan, membawa perubahan yang tak bisa dihindari. Ada harapan yang hilang, mimpi yang gagal terwujud, dan ketidakpastian yang harus diterima. Puisi ini menyampaikan kesadaran akan kefanaan manusia dan betapa waktu adalah sesuatu yang tak bisa dikendalikan.

Tentu aku berbeda level dan kualitas dengan Noorca dan istrinya – Rayni N. Massardi, yang juga seniman. Saya dan Tias Tatanka tidak hendak dan tentu tidak akan pernah bisa menyamai prestasi mereka. Tapi menjadi sahabat mereka saja sudah suatu prestasi. Kami sangat senang jika ada seniman yang juga sukses dalam membina dan membangun keluarga (besar).

Klab Penulis terisi lagi. Kali ini Imam Khoironi, penyair dari Lampung. Semoga Imam semakin produktif menulis puisi.

Ranah Minang memang gudang penulis. Kali A N Dika alias Andri Andika dari Pekanbaru. Terus menulis dan berkarya untuk negeri, Dika!

Boni Chandra, penulis cerpen yang jadi anggoita Klab Penulis sekarang. Kita tunggu karya dia berikutnya.

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022), serta Peta Orang Mati (kumpulan cerpen, 2023).

Bandung juga gudang penulis. Degnan banyaknya koran dan komunitas sastra, iklim menulis terbangun. Topik Mulyana adalah contohnya.

Ranah Minang tidak pernah kehabisan penulis. Terus bermunculan. Tak ada habis-habisnya. Kali ini Denni Meilizon dari Pasaman Barat.

“Pertama, istri kau sudah aku pindahkan ke sel khusus. Kedua, aku akan belokkan kasus istri kau ke isu lingkungan hidup, ya. Pencemaran sungai. Ya, ya, ya. Sungai yang bersih jadi kotor karena istri kau mencemarkannya dengan mencuci uang di sana.”

Tiga puisi tentang sebuah kota karya Gol A Gong. Silakan kirim 3-5 puisi. Ada uang pengganti pulsa Rp. 150 ribu dari Puisi Esai Denny JA.

Gaza penuh darah sekalihus inspirasi bagi para penulis. Pena dengan tinta penuh darh digoreskan sebagai bentuk perlawanan pada zionis Israel.

Tamu datang tak diundang malah mengundang teman-temannya. Dia tidak mau pergi tapi balik menguasai rumahnya. Itulah Israel.

Cobalah anak-anak dan cucunya disuruh berolahraga, membaca, dan mendengarkan dongeng. Insya Allah, akan jadi generasi yang unggul.

Banten dalam puisi, Banten dalam pikiran kita, kapan bisa bangkit dalam keterpurukan?