Perjalanan 50 Tahun Sastra Banjarbaru

“Seandainya tahun demi tahun adalah kumpulan teks dalam novel yang menuntut untuk saling dihubungkan, maka sekecil apa pun sebuah peristiwa tak ada yang boleh dilupakan.” (Harie Insani Putra)
***

Sejak Minggu, 13 September 2020, saya “traveling” di areal Museum Literasi Gol A Gong. Mengamati satu demi satu judul buku. Alhamdulillah, pada 20 September 2020, beberapa buku yang “nyunsep” sulit saya cari di rtimba belantara buku, akhirnya saya temukan. Terutama buku “50 Tahun Sastra Banjarbaru” (Sejarah dan Jejak Komunitas), disusun Ali Arsy, Arifin Noor Hasby, dan Hudan Nur.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Penulis Harus Memiliki Sikap Jujur dan Terbuka Dikritik

Penulis harus jujur? Maksudnya?Jika menulis kisah nyata (otobiografi/biografi), ini sesuatu yang berat pertanggungjawabannya. Jika saya yang menulis kisah hidup kamu, maka saya harus bertanya dulu: Untuk apa? Motivasinya apa? Saya pernah beberapa kali menerima pekerjaan ini dan beberapa kali menolak karena tidak memenuhi syarat. Menulis kisah hidup seseorang itu tidak bisa dipaksakan, apalagi jika terkait ke unsur konsekwensi (dampak ke lingkungan) dan kepopuleran (public figure).

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Noorca M. Massardi, Segala Sudah Ia Punya

Ya, Allah. Ketika saya SMA dan masih jadi pemimpi, keluarga Massardi dari Subang jadi penggerak semangatku. Kini internet menyatukan kami. Noorca M. Massardi lahir 24 Februari 1954, sembilan tahun di atasku. Noorca adalah seniman. Hal yang aku contoh darinya adalah memasuki dunia kreatif tanpa batas. Jurnalis, organisatoris, menulis novel, puisi, skenario. Dia juga meraih yang muda, melebur, dan beradaptasi. Ada hal yang tidak bisa aku tiru, menulis naskah drama dan jadi presenter TV.

Tentu aku berbeda level dan kualitas dengan Noorca dan istrinya – Rayni N. Massardi, yang juga seniman. Saya dan Tias Tatanka tidak hendak dan tentu tidak akan pernah bisa menyamai prestasi mereka. Tapi menjadi sahabat mereka saja sudah suatu prestasi. Kami sangat senang jika ada seniman yang juga sukses dalam membina dan membangun keluarga (besar).

Buku-bukunya banyak di rak. Bertebaran. Tadi datang lagi kiriman 2 buku, yaitu “Ketika 66” (KPG, 2020) yang merah dan “Setelah 17 Tahun” (Gramedia, 2016). Saya juga membaca karya kakaknya Yudhistira ANM Massardi. Mereka keluarga penulis, yang mengagumkan.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cerpen: Suara Bilal

Karya Gol A Gong

Nasrul bangkit. Hati-hati dia melangkahi beberapa tubuh yang hanya bercelana pendek saja. Kamar kontrakan yang berukuran 3 kali 3 meter ini diisi lima orang. Dibukanya pintu. Udara subuh membuat kamar kontrakan yang pengap terasa sejuk.

“Nyamuk, Rul, tutup lagi,” Iman menggeliat dan menggeser tubuhnya ke dekat dinding, tempat dimana tadi Nasrul tidur.

“Sudah subuh….”

“Iya. ‘Ntar aku nyusul….”

“Aku ke mesjid ya…,” Nasrul menjumput sarung poleng yang tergantung di dinding.

Iman tidak menjawab. 

Nasrul keluar kamar. Menutup pintu. Dia menuju tali jemuran. Kaos yang tadi sore dicuci diambilnya. Didekap dan diciumnya.  Lalu dipakainya. Sebetulnya belum kering benar, tapi justru membuat tubuhnya merasa sejuk.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5