Sebagian besar puisi dalam antologi ini belum pernah disebarluaskan dalam bentuk buku. Sebagian terserak di sejumlah antologi dan media massa (koran). Puisi-puisi ini sendiri diseleksi langsung oleh penyairnya, yakni Goenawan, sambil sesekali didiskusikan bersama sang editor, Tia Setiadi.

Dalam pengantarnya, Tia Setiadi mengatakan bahwa dalam antologi yang berisi 70 puisi ini Goenawan mengilaskan problem-problem mendasar dan genting manusia, dalam aksentuasi yang khas dan pribadi. Ia juga memberaikan latar sejarah yang beraneka, berlapis-lapis, membentangkan tempat-tempat jauh atau dekat, bolak-balik antara jagat silam atau kini.

Apa yang dikatakan Tia Setiadi memang benar adanya. Ia tak berlebihan. Dan bagi pembaca sastra, terutama puisi, akan mengamini pernyataan tersebut, mengingat Goenawan seorang penyair dan esais yang memiliki pengetahuan yang sangat luas.
Untuk mencoba memahami puisi-puisinya, kita sebagai pembaca (saya pribadi) mesti membuka sumber-sumber lain, seperti buku, artikel di koran dan kamus. Mengapa itu perlu dilakukan? Karena banyak sekali nama tempat dan tokoh baru, asing, yang tak kita ketahui, yang muncul dalam puisi-puisinya. Selain itu, ada juga diksi-diksi atau istilah-istilah yang jarang digunakan orang kebanyakan.

Seperti yang dikatakan Tia Setiadi dalam pengantarnya, yang saya tulis di awal, nama-nama tempat dan tokoh yang muncul dalam puisi-puisi Goenawan bisa merujuk pada sebuah kilasan sejarah, baik di Barat maupun di Timur.

Namun Goenawan di sini tak hanya menjadi pengisah sejarah tersebut, tetapi juga sebagai individu yang turut terlibat secara intelektual dan emosional. Ia tak bisa mengundurkan diri dari peristiwa-peristiwa kemanusiaan itu, dan tentunya keterlibatannya itu dituliskan dalam bahasa puitis Goenawan yang liris dan mendalam.
Ia, hebatnya, tak berhenti di titik itu. Ia kemudian membawa pembaca kepada apa-apa yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa itu, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada setiap manusia (dan barangkali seluruh makhluk hidup): perenungan tentang kematian, perasaan kekosongan dan kesepian, kesedihan dan kekecewaan atas realitas, hingga kepada pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup dan kehidupan—pertanyaan-pertanyaan filosofis-elementer bagi seluruh umat manusia, seperti yang tercantum dalam puisi Tigris, puisi pertama yang dijadikan judul buku ini:

Antara sejarah/ dan sawah/ hama/ dan Hammurabi// Setelah itu, kita tak akan di sini// … Belas adalah/ Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata/ jadi magma, bara yang diterbangkan bersama/ belibis, burung-burung sungai yang akan/ melibas pasukan revolusi/ dengan besi dan api/ “Ababil! Ababil!” mereka akan berteriak./ Bumi perang sabil.//… (Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)// (halaman 9-10).

Puisi ini membawa pembaca kepada sejarah yang terjadi di tahun 570 M atau 571 M di Mekah, di mana saat itu Abrahah, sang raja Yaman, menyerang Kota Mekah dengan pasukan bergajah. Ia ingin menghancuran Ka’bah, tempat suci kaum muslim— dibarengi dengan tujuan-tujuan politik. Namun sayang, Tuhan tak diam. Ia, Yang Maha Berkuasa, mengirimkan burung-burung yang berbondong-bondong, burung yang tak pernah dilihat manusia sebelumnya. Burung Ababil. Di kaki-kaki burung-burung itu ada tanah yang mengeras, seperti batu, dan berapi. Kemudian burung-burung itu menjatuhkan batu-batu itu ke pasukan yang dipimpin Abrahah. Seketika pasukan bergajah itu seperti daun-daun yang dimakan ulat. Membaca sajak ini akan mengingatkan kita kepada Surah Al-Fiil ayat 1-5 dalam Alquran.

Tak hanya itu, Goenawan juga mengilaskan sejarah (dan kisah epik) pada sajak-sajaknya yang lain, seperti epos Ramayana dalam Hikayat Sri Rama; epos Mahabharata dalam Dewa Ruci dan Bima; tragedi pengeboman di Kota Hiroshima, Jepang, dalam puisi Hiroshima, Cintaku; perang Troya dalam Perisai Akhiles; tragedi—atau perang—di Vietnam dalam Potret Taman untuk Alen Ginsberg. Kilasan sejarah itu dimunculkan dalam bentuk utuh satu puisi, dari awal hingga akhir baris, namun ada juga yang hanya “disisipkan”.
Namun, bukan Goenawan Mohamad namanya jika ia hanya mengilaskan sejarah dalam puisi-puisinya. Lebih jauh ia acapkali mengajak pembaca untuk memikirkan ulang setiap peristiwa atau momen (yang kemudian menjadi momen puitik) itu atau setidaknya mengajak pembaca untuk bertanya-tanya kenapa hal itu terjadi atau harus terjadi. Dari situlah kita bisa mengerti mengapa ia memiliki tempat yang spesial di jagat sastra (puisi) negeri ini.




Mantap dan Luar Biasa’
Mantap dan Luar Biasa’
Salam Literasi dari kami Taman Bacaan Masyarakat TBM POCONDEKI CAKRAWALA BORONG MANGGARAI TIMUR Flores Nusa Tenggara Timur 🙏👆👆