Setiap pagi aku menunggumu di halte itu. Kau tak pernah datang. Padahal sudah dua musim aku menertawakanmu. Bus merah akan membawa ke masa depan. Matahari masih saja terhalang postermu.
Setiap siang aku menunggumu di cafe itu. Segelas kopi pahit untukku. Kau lemon tea. Kita berbeda menikmati siang. Aku ingin pergi bersamamu. Mengenang masa kanak-kanak terbenam di lautan bendera. Pohon asam itu tempat menabur janji sehidup semati.
Setiap sore aku berdiri di masjid kota. Menunggu senja. Orang ramai bersarung dan membawa sajadah. Kota tetap saja kehilangan kiblat. Kau usir aku pergi. Kota ini sudah milikmu.
*) Serang, menunggu subuh, 12/1/2016


REDAKSI; Silakan mengirimkan 3 hingga 5 puisi. Sertakan foto dan gambar atau foto ilustrasi untuk mepercantik puisi-puisinya. Sertakan bio data singkat. Kirimkan ke email ; gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 100.000 dari Honda Banten. dan Ayam Geprek Dewek Ciracas Kota Serang

