Kota Ini Sudah Jadi Milikmu

Setiap pagi aku menunggumu di halte itu. Kau tak pernah datang. Padahal sudah dua musim aku menertawakanmu. Bus merah akan membawa ke masa depan. Matahari masih saja terhalang postermu.

Setiap siang aku menunggumu di cafe itu. Segelas kopi pahit untukku. Kau lemon tea. Kita berbeda menikmati siang. Aku ingin pergi bersamamu. Mengenang masa kanak-kanak terbenam di lautan bendera. Pohon asam itu tempat menabur janji sehidup semati.

Setiap sore aku berdiri di masjid kota. Menunggu senja. Orang ramai bersarung dan membawa sajadah. Kota tetap saja kehilangan kiblat. Kau usir aku pergi. Kota ini sudah milikmu.

*) Serang, menunggu subuh, 12/1/2016

REDAKSI; Silakan mengirimkan 3 hingga 5 puisi. Sertakan foto dan gambar atau foto ilustrasi untuk mepercantik puisi-puisinya. Sertakan bio data singkat. Kirimkan ke email ; gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 100.000 dari Honda Banten. dan Ayam Geprek Dewek Ciracas Kota Serang

Puisi Gol A Gong: Kota tak Bernyawa

Ketika di dalam kereta, aku tak sanggup melihatmu dari jendela. Stasiun bukan lagi perhentian. Ia jadi pemberangkatan. Lihatlah, bangku di depanku kosong. Untukmu. Kau ada di peron? Bahkan senyumanmu tertelan kabut kota. Kau sibuk dengan perayaan. Pelangi telah jatuh di kota. Kau salah satu warnanya. Senyummu di setiap persimpangan. Wajahmu jadi penuh debu. Usang dalam kiasan. Sudah lama kota kita tak bernyawa. Tadinya kita akan melahirkan kota baru. Senja terlalu cepat datang. Kita bergegas ke kamar tidur. Terkurung dalam ketakutan.

*) Serang, 9/1/2016

REDAKSI; Silakan mengirimkan 3 hingga 5 puisi. Sertakan foto dan gambar atau foto ilustrasi untuk mepercantik puisi-puisinya. Sertakan bio data singkat. Kirimkan ke email ; gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 100.000 dari Honda Banten. dan Ayam Geprek Dewek Ciracas Kota Serang

Sufi Kampung

Cerpen Oleh Gol A Gong

Empat orang anak tanggung mengusung keranda menyusuri jalanan kampung. Aneh. Kok, sepi? Ke mana orang-orang? Aku meminggirkan motor. Memarkir. Mereka mengusung keranda ke pemakaman kampung.

“Siapa yang meninggal?” aku masih duduk di sadel motor.

“Mang Safei!” anak tanggung berkaos biru belel yang sedang mengusung keranda ke pemakaman kampung berteriak menjawab pertanyaanku.

Aku kaget. Mang Safei? Ke mana keluarganya? Aku langsung menyebarkan pesan ke group WA warga komplek. Berita kematian Mang Safei menyebar dengan cepat di group.

Mang Safei di kampung ini dikenal sebagai orang dengan gangguan jiwa.

“Mang Pei gila!” Begitulah orang-orang kampung memangilnya.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)