Puisi Gol A Gong
KOTA KENANGAN

Kenapa aku masih pulang ke kotamu? Tak ada Tuhan di sana, walau kau pergi sembahyang. Kitab tak lagi jujur. Kau menyanyikannya dengan tertawa.

Tak perlu ada perayaan kelahiranmu. Jika kado itu berisi darah. Sematkan saja bibir di perutmu. Ucapkan, “Ada orang di dalam mesjid?”

Bertahun lampau kita menemukannya di perpustakaan. Orang tak percaya kenangan. Aku sedang membuatnya di sini. Menunggu kamu melengkapinya.

*) Serang 9/1/2016

Puisi Kota Kenangan karya Gol A Gong ini memiliki nuansa melankolis dan reflektif. Ia berbicara tentang kenangan, kehilangan, dan mungkin kritik terhadap sesuatu yang dulu diyakini tetapi kini dipertanyakan. Ada kesan bahwa si penyair masih terikat dengan kota tersebut, meskipun banyak hal di sana telah berubah atau kehilangan maknanya.

Beberapa hal menarik dari puisi ini:

  • Pertanyaan eksistensial: “Tak ada Tuhan di sana, walau kau pergi sembahyang.” Ini bisa diartikan sebagai kritik terhadap ritual keagamaan yang kehilangan esensi, atau perasaan hampa meskipun masih melakukan ibadah.
  • Kenangan dan kehilangan: “Bertahun lampau kita menemukannya di perpustakaan.” Perpustakaan sering diasosiasikan dengan ilmu, kenangan, atau sesuatu yang abadi, tetapi kini justru dipertanyakan.
  • Nuansa simbolik: “Sematkan saja bibir di perutmu. Ucapkan, ‘Ada orang di dalam mesjid?'” Bagian ini terasa simbolis dan terbuka untuk banyak tafsir. Bisa jadi berbicara tentang kehidupan yang berulang, tentang pencarian, atau tentang sesuatu yang disembunyikan.

Puisi ini memberi ruang bagi pembaca untuk merenung dan menemukan makna pribadi di dalamnya. Kira-kira, menurutmu, puisi ini berbicara tentang apa? Ada bagian yang paling menarik buatmu?

Tim GoKreaf/AI

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==