Oleh Tias Tatanka
Alhamdulillah hubby mengizinkan dan mendukung supaya aku lebih bebas mengajar tanpa meninggalkan rumah. Jadilah sore itu anak-anak memasuki gerbang dan berbelok ke pagar rumah kami. Aku tahu mereka antusias karena rumah kami jarang mereka kunjungi. Mereka lebih sering bertemu denganku di pendopo depan.


Langsung saja mereka menuju kolam ikan dan kura-kura dan mengatakan komentar macam-macam. Aku menyambut dengan suka cita lalu minta mereka ke pendopo. Alat melukis sudah tersedia di lantai. Buku-buku sudah kusediakan karena di pendopo hanya tersedia buku untuk usia dewasa.



Anak-anak kubolehkan melukis setelah membaca buku. Mereka protes karena bukunya berbahasa Inggris. Kusarankan mereka melihat gambarnya, lalu bercerita dengan bebas tentang gambar itu. Kuminta Teh Sri untuk mendampingi mereka dulu karena aku mau salat asar.

Saat salat, aku mendengar celoteh anak-anak dan segera saja kenangan 23 tahun lalu berkelebat. Masya Allah, aku ingin menangis mengingatnya. Barangkali ada ayah atau ibu anak-anak itu pernah berada di lokasi yang sama, menginjak lantai yang sama. Seperti Teh Sri yang dulu pun merasakan atmosfir itu.

Suara celoteh itu seperti memeriahkan rumah kami yang lebih sering sepi karena anak-anak sudah merantau semua. Rumah seperti mendapat tenaga dan warna baru. Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih.




Tapi ada yang berbeda. Dulu aku cenderung membiarkan anak-anak bermain dengan buku yang diletakkan di sekeliling ruangan. Sore itu, aku banyak melarang anak-anak mengutak-atik koleksi hiasan dan suvenir milik hubby. Sepertinya aku akan memindahkan koleksi itu dan menggantinya dengan lebih banyak buku anak. ![]()



Selasa sore, 4 Maret 2025 itu, aku merasa lebih bersemangat mengajar. Tanpa sadar aku melakukan hal sama seperti awal Rumah Dunia bergerak 23 tahun lalu. Satu persatu anak kubacakan buku, sambil memancing mereka menirukan bacaan dalam bahasa Inggris.
Hal-hal lucu terjadi dan aku menikmatinya di lantai sama di masa berbeda.![]()
#rumahdunia #rumahdunia23tahun



