Literasi baca tulis sebagai kecakapan hidup saya setuju. Drs. Muhammad Syarief Bando, MM sebagai Kepala Perpusnas RI mengingatkan, “Setiap pembaca buku harus mulai merasakan manfaatnya. Harus sudah bisa menghasilkan barang dan jasa dari kebiasaan membacanya.”

Jika saya membaca buku tentang cara membuat kue brownies, misalnya, saya akan mempraktikkannya di rumah. Saya membuat labelnya agar bisa menyaingi Amanda Brownies yang terkenal itu di Bandung. Namanya Gong Brownies. Kenapa, tidak? Inilah yang kemudian didengungkan Perpusnas RI, bahwa perpustakaan sekarang harus berbasis inklusi sosial. Tidak lagi eksklusif untuk orang-orang yang mengincar gelar akademis. Masyarakat biasa juga memiliki hak sama untuk datang ke perpustakaan.


Setelah Gong Brownies jadi, saya akan masuk ke literasi digital. Saya membuat akun medsos. Apalagi pada peringatan Hari Buku Nasional, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memperingati hari jadinya yang ke-42 tahun pada 17 Mei 2022. Tagline Perpusnas tahun 2022 ini yakni “Transformasi Perpustakaan untuk Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional”. Jadi sekarang harus mulai memasuki era digital

Saya mulai memakai ilmu fotografi. Gong Brownies saya foto dala berbagai sudt dan tentu cita rasa seninya. Saya unggah dan jual di akun IG saya, di YouTube, di Twitter, dan di Facebook. Ini namanya literasi keuangan.

Jika sukses, saya akan terus mencoba brownies varian baru. Saya akan melakukan percobaan-percobaan. Ini literasi sains.

Tentu saya akan melibatkan masyarakat di sekitar. Ini literasi budaya dan kewargaan. Saya merawat budaya berbagi, budaya gotong-royong masyarakat. Sukses jangan dinikmati sendirian tapi ajak masyarakat untuk berubah.

Kemudian yang terakhir adalah literasi numerasi. Ini akan terkait ke langkah-langkah promosi. Saya harus paham bentul menggunakan info grafis, pergitungan-perhitungan angka-angka dalam hal pemasukan dan pengeluaran usaha brownies saya.

Jadi 6 Literasi dasar adalah pintu gerbang menuju kecakapan hidup. Kita bisa berdaya dan mandiri. Kita bisa hidup tanpa jadi beban orang lain.

Saya sendiri dalam kenyataannya bisa disebut writerpreneur. Ketika saya sukses menjadi penulis, saya mencoba berbagi. Saya membuat taman bacaan masyarakat atau pusat belajar masyarakat bernama Rumah Dunia. Saya membuka kelas menulis jurnalistik, sastra, dan film. Ada yang gratis,ada juga yang berbayar.


Saya membuka lini usaha bernama Gong Media Cakrawala, bergerak di penerbitan (Gong Publishing), biro perjalanan (Gong Traveling), pelatihan menulis, dan TV Program. Di penerbitan sudah bejalan hingga sekarang Banyak buku diterbitkan. Banyak pula penulis muda Banten bermunculan. Selalu ada yang disisihkan untuk kas Rumah Dunia.

Biro perjalanan bernama Gong Traveling ini menarik. Taglinenya: Jalan-jalan sambil nulis buku. Traveling yang tidak biasa. Destinasinya Singapura, Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Di dalam perjalanan para peserta diajari cara bertahan hidup di negara yang dituju dan diajari menulis catatan perjalanan (travel writing).
Selama membuka pintu gerbang 6 literasi dasar, ya. Jangan menyerah. Sabar.
Gol A Gong

