Hari ini aku mengingat tanggal ini dua puluh enam tahun lalu. Pagi-pagi hubby berbisik ke perutku, “Cepat lahir, cuti Papah tinggal dua hari.” 😂

Kami agak salah perhitungan, karena baru pertama menghadapi kelahiran anak, jadi percaya sekali perkiraan lahir dari bidan akan tepat. Hahaha. Jadilah hubby ambil jatah cuti setahun sekaligus biar bisa menemani aku melahirkan.
Ternyata cutinya terlalu dini. Sembilan hari sudah berlalu, jabang bayi baru lahir. Akhirnya dua hari setelah melahirkan, hubby harus kembali ke kontrakan kami di Jakarta.
Aku memilih melahirkan anak-anak nanti di Serang dengan satu alasan: agar Banten semakin dekat denganku. Soalnya hubby yang lahir di Purwakarta dan sejak umur 2 tahun (1965) sudah tinggal di Serang, sering dipersoalkan sebagai bukan orang Banten. Itu alasannya. Kebetulan juga keluarga besar hubby tinggal di sini, jadi lebih hangat rasanya. Tapi alasan utama tetap yang di atas. Idealis sekali yak? 😂

Begitu hubby kembali ke Jakarta, aku ditemani Bapak Ibu yang menengok cucu pertama mereka. Ibuku memberi resep tradisional mengantisipasi kebuncitan paska melahirkan. Tiap pagi aku memeras sepotong jeruk nipis, lalu meneteskan minyak kayu putih di atasnya. Campuran itu aku oleskan ke perut sebelum memakai bengkung, sebuah kain panjang untuk membelit perut hingga panggul. Ini kebiasaan dari keluarga hubby yang Sunda. Bengkung ini berbeda dari setagen di Jawa, kainnya lebih lebar dan panjangnya tiga kali lipat.

Memakai bengkung bagiku membuat perut terasa hangat dan tegak. Organ-organ di dalamnya seperti stabil di tempatnya. Posisi badan pun tegak ditahan oleh bengkung tebal. Namun, agak sulit jika ingin pipis atau pup. Wkwkwk. Bengkung dilepas untuk dipakai lagi setelah buang hajat. Merepotkan sekali, tapi aku setia memakainya.
Kenangan melahirkan sepertinya menjadi kenangan yang istimewa. Aku sampai menulis puisi di atas dan memaknainya dalam-dalam.

Setiap kelahiran membuatku diingatkan bahwa aku masih anak-anak yang harus menurut pada ibunya, anak-anak yang baru lahir. Sebab mereka memiliki kebijaksanaan yang dititipkan Allah selama dalam kandunganku.
Barakallahufiiumriiki Teh Bella ❤️ Semoga Allah melindungimu dari marabahaya,fitnah keji, kejahatan, iri, dan dengki. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu. Semoga berkah setiap langkah kebaikan. Semoga segera berjodoh dengan prince charming yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Aamiin yaa Robbal’aalamiin. 🤲
Tias Tatanka – ibu 4 anak, pendiri Rumah Dunia


