Setiap selesai salat subuh, walaupun awalnya males-malesan, Bapak mengajakku lari pagi. Setiap hari. Manfaat pertama, tentu tubuhku sehat dan bugar. Energiku berlebihan. Aku salurkan selain ke badminton, juga traveling. Aku tidak pernah betah di rumah. Walaupun tanganku satu, aku terbiasa melempar ransel dan melompat ke bak truk. Jangankan orang lain, aku sendiri tidak ingat kalau tanganku satu.

Manfaat kedua, ini yang membuatku selalu bersyukur. Ketika kelas 1 SMP (1977), ketiks class meeting, saya juara kedua untuk kelas 1. Juara pertama tangannya dua. Di SMA, tetap juara kedua dan juara pertama orang yang sama. Saya kuliah di Fakultas Sastra Di UNPAD Bandung. Ketika ada pertandingan antar kampus, saya single pertama dan juara keempat.


Saya bercita-cita ingin juara di All England seperti Rudi Hartono – idolaku, yang merebut juara All England 8 kali (7 kali berturu-turut). Masuk guinness book of record sebagai pebulutangkis berlengan satu. Tapi ternyata secara phisik sulit menandingi pebulutangkis berlengan dua.

Akhirnya pada 1985, saya jadi atlet Jawa Barat cabang olahraga badminton untuk PON Penyandang Cacat di Sidoarjo. Untuk pertama kali, 3 emas badimonton digondol Jawa Barat. Single, double, dan beregu. Kemudian saya jadi atlet Indonesia untuk Fepic Games IV (Pekan Olahraga se-Asia Pasific) di Solo, September 1986. Tiga emas saya sabet juga untuk cabor badminton, single, double, dan beregu.

Pada 1989, saya dikirim ke Jepeng untuk mengikuti Fespic Games V. Saya menyabet 1 emas double dan 1 perunggu untuk single. Di semifinal saya kalah. Juara pertamanya disabet Jepang. Jadi itulah manfaat buat saya dari kebiasaan berolahraga dan badminton. Olahraga Selain Sehat Juga Prestasi. Semua kisah tentang badminton sudah saya tulis di buku Gong Smash (Epigraf, 2023).




