Berhubung sudah perekaman, tanggunglah untuk mengurusnya sedikit lagi, jadi dengan tekad kuat aku bantu si bungsu mengurus ka te pe sendiri. Pukul enam pagi lebih sedikit kami sudah duduk manis di antrean kursi Disdukcapil. Sebelumnya sudah mencatat nama di pos satpam.
Sejam kemudian dipanggil untuk mendapat nomor antrean. Sejam kemudian baru dipanggil masuk. Menurutku ini sudah bagus sistemnya, orang tidak bergerombol dan tidak berebut. Cukup adil buatku, siapa datang duluan, dia yang diurus segera.

Ada seorang ibu yang datang sebentar sesudah kami, tapi ternyata ia tidak mencatat namanya di pos satpam, sehingga ia mengulang antre bersama rombongan yang bernasib sama.
Beberapa menit setelah si bungsu masuk kantor, ada drama anak kecil yang kebingungan mengikuti ibu-ibu. Mondar-mandir ia sampai akhirnya menangis. Aku lambaikan tangan dan bertanya ibunya di mana. Lalu kuajak masuk ke kantor, sambil lapor satpam ada anak mencari ibunya. Beberapa menit kemudian kulihat anak itu sudah bersama seorang ibu yang sibuk membawa berkas. Si anak sudah pasang wajah senang dengan ponsel di tangan.

Itu drama pertama yang kulihat. Drama berikutnya kualami sendiri.
Setelah menyerahkan berkas copy kartu keluarga dan pesan bahwa sudah melakukan perekaman di kecamatan, anakku disuruh menunggu di luar. Nanti ka te pe akan dibagikan di luar.
Sejam berlalu, ada yang nomornya selisih sedikit dengan antrean anakku sudah menerima ka te pe. Lalu ada lagi ka te pe dibagikan. Aku heran, kenapa ka te pe anakku belum jadi juga?

Anakku yang sudah lima kali bolak-balik nanya akhirnya menyerah. Jadi aku yang masuk kantor, bertanya baik-baik urutan pencetakan ka te pe yang sebenarnya. Kuperoleh jawaban bahwa pencetakan tidak sesuai urutan.
What? Trus maksudnya disuruh menunggu sampai nasib membawa keberuntungan? Wogh, aku tidak setuju. Sudah kupuji kebaikan sistem antrean di paragraf atas, masa mau kuhapus lagi?
Aku menghadap loket pencetakan. Tanya baik-baik berkas anakku yang nomornya awal tapi belum selesai cetak. Allahu Akbar, gais, berkas anakku ditumpuk bersama berkas yang belum jelas. Aku tanya ada masalah apa dengan berkas itu. Dijawab, ini udah perekaman belum, dari tadi dipanggilin.
Aku protes dong, setelah menyerahkan berkas anakku disuruh nunggu di luar dan tidak ada berkas atas nama anakku yang dikembalikan atau diumumkan. Kalau aku nggak datang, mungkin berkas itu akan tetap di situ, tertimbun dan nggak diurus-urus sampai seseorang sadar dan memanggil nama anakku.

Petugas mengakui pencetakan tidak urut sesuai antrean. Ini aku kritisi juga, ngapain ada nomor antrean kalo gitu. Ngapain aku datang dari setengah tujuh pagi kalo nggak pengin cepat selesai urusannya.
Akhirnya ka te pe anakku langsung dicetak. Bayangkan kalo aku tetap menunggu tanpa berusaha bertanya. Bayangkan lagi orang-orang yang pasrah menunggu tanpa ada keberanian bertanya.
Ini memang soal sepele, tapi barangkali penting buat seseorang.
Buat yang mengurus ka te pe dan telah melakukan perekaman di kecamatan, mungkin berkasnya diberi catatan khusus “telah melakukan perekaman”. Jangan tanya kenapa berkas anakku nggak dikasih catatan begitu, karena dengan pengalaman ini baru tahu.
Penting sekali untuk bertanya sejauh mana proses berkas dikerjakan. Sabar juga untuk menunggu antrean, karena jika terlewat harus ambil antrean baru. Perlu juga bawa bekal sarapan.
Demikian, semoga bermanfaat.
Meski protes, aku nggak julid yak.


