Akhirnya aku bilang udah cukup dan mengucapkan makasih sudah banyak mengalah untukku di perjalanan kali ini. Aku bersikeras moda transportasi kami kali ini adalah kereta, meskipun hubby mengusulkan bus di salah satu rute. Apa asyiknya duduk di bus, meskipun lega kursinya? Aku kan ingin mondar-mandir di lorong gerbong saat gabut. ![]()

Alasan lainnya adalah salah satu rutenya membuatku dapat bernostalgia ke masa kecil, saat almarhum Bapak membawa kami sekeluarga mudik setiap lebaran hari kedua ke Cilacap. Suasana dalam kereta kembali bisa kurasakan di perjalanan kali ini.
Sekarang sih nambah dengan pengalaman menyenangkan dan tentu lebih istimewa. Sudah ada orang yang memperhatikan langkahku, ada yang tanya aku perlu porter ngga biar nggak capek bawa koper dan tas, trus ada yang bayarin setiap aku pengin jajan di gerbong restorasi. ![]()

Apakah kami egois dengan enak-enak jalan berdua? Egois gimana ya kalau tetap saja ada agenda kegiatan literasi di sepanjang hari-hari kami? Lagipula kami tetap mengontrol kondisi anak-anak dan urusan rumah serta Rumah Dunia.
Aku berusaha memahami pekerjaan, hobi, dan segala urusan hubby. Beliau perlu didengar, dimengerti, diberi feedback, termasuk dikritik. Alhamdulillah beliau terbuka terhadap kritikan yang membangun dan tidak hanya menyalahkan. Meskipun kadang ada kzl juga menghadapi kritikanku yang bisa jadi mengandung emosi dan konten baper. ![]()


