Namun, beliau juga sangat menghargai saat aku bersikeras mempertahankan kritik dan pendapat selama ada dasarnya. Biasanya insting istri terhadap bahaya itu kuat, begitu kataku jika sudah merasa yakin. Insyaallah biasanya benar, makanya hubby lebih berhati-hati kalau aku sudah ngomong gitu.

Mana aku kalau sudah serius ngomongnya nggak pakai senyum. Wkwkwk. Yakalik ngomongin insting sambil haha-hihi. ![]()
Seperti lirikan tajamku saat hubby keseringan makan durian, akan membuat beliau menahan diri. Biasanya saat aku nggak ikut traveling, laporan beliau soal jumlah durian yang dimakan sering berbeda dengan kenyataan. Sudah begitu tak ada teman seperjalanan beliau yang mampu mengingatkan. Paling nunggu saat-saat aku telepon hubby, sehingga ada kesempatan mereka “melapor”. ![]()

Jangan dikira perjalanan berdua ini tanpa drama, ya. Tapi seiring usia, sepertinya drama-drama kecil lebih mudah kami tangani. Insyaallah begitu. Buat hubby segala ganjalan kecil harus segera disingkirkan segera. Berbeda denganku yang cenderung banyak menimbang-nimbang masalah. Sebenarnya sejalan dengan waktu, bagiku masalah itu lenyap dengan sendirinya, biasanya sih nggak aku ungkit-ungkit juga karena sudah lupa.

Mungkin karena tidak sabar dengan caraku, hubby akan “menghadang” aku untuk langsung bertanya dan berdiskusi, sehingga masalah yang mengganjal di antara kami lebih cepat terselesaikan. Aku sih tidak masalah, malah bersyukur dengan karakter beliau ini, yang menutupi sisi kekuranganku.

Begitulah kami saling melengkapi, saling mencukupi, dengan segala upaya. Masih jauh dari sempurna tentu saja. Makanya aku banyak-banyak mencium punggung tangannya di setiap kesempatan, sebagai ungkapan permintaan maaf. ![]()

Kenapa nggak minta maaf langsung saja? | Mungkin karena aku lebih suka memakai bahasa kalbu.
Sehat-sehat ya, semuanya!
Tias Tatanka


