Membacai Cerpen “30 Hari Menulis” di Group FB Nulis Aja Dulu, Tema Cerita Masih Tempelan

Lalu jika mengikuti lomba menulis, apa yang harus kita lakukan? Jika eserta lomba, aku akan melihat ketentuan lomba di persyaratannya. Aku baca temanya. Mialnya : Tentang Perampokan. Maka yang akan aku lakukan adalah:

Pertama: riset pustaka dengan membacai berita-berita perampokan di Google atau berita koran harian. Aku yakin akan menemukan ide cerita menarik. Kata Eyang Plato, “Fiksi itu mimesis, tiruan dari kehidupan sehari-hari.”

Kedua: riset lapangan dengan mewawancari korban perampokan atau datang ke penjara mewawancarai perampok yang tertangkap dan polisi yang menangkap. Ini memang butuh waktu dan keberanian. Kenapa tidak dicoba? Aku yakin akan mendapatkan perspektif atau cara pandang baru tentang perampokan.

Nah, setelah riset aku akan mengembangkan fakta perampokan itu dengan menggunakan unsur intrinsik (ide, tema, judul, target pembaca, premis, sinopsis, konflik, tokoh, karakter, dialog, latar tempat dan waktu, diksi, gaya bahasa, alur cerita, plot, plot point, dan ending). Itulah imajinasi. Jika tidak, maka hasilnya laporan jurnalistik. Kita harus memahami, bahwa menulis cerpen itu adalah “proses menjadi orang lain”.

Setelah riset, akan muncul tiga pilihan POV atau sudut pandang penokohan: korban, si perampok, dan polisi. Tentu aku akan memilih jadi “perampok”, lebih asik. Aku akan menyampaikan pesan “mencari nafkah yang halal untuk keluarga” dengan cara sebaliknya. Aku tidak akan menasehati apalagi menceramahi pembaca. Aku biarkan pembaca memutuskan sendiri.

Aku akan berusaha di ending cerita si pembaca akan berteriak: Aku tidak akan jadi perampok! Jadi perampok itu menyakiti orang! Aku akan mencari pekerjaan yang halal! Itulah sebetulnya amanat dari cerpen yang akan aku tulis, yaitu pembaca mendapatkan pencerahan. Unsur intrinsik dalam fiksi mengharuskan itu.

Jadi aku tidak akan menjaga jarak. Aku tidak akan menulis tentang tokoh “aku” yang melihat perampokan, melaporkan ke polisi, kemudian perampok itu tertangkap. Itu adalah laporan juralistik.

Kepada para penulis, termasuk aku, harus diingat menulis itu memiliki tiga tahapan: riset, menulis, dan swa sunting. Tidak ada sebuah karya yang sukses tanpamelewati proses revisi berkali-kali. Tetap semangat menulis, ya. (Gol A Gong)

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

10 Komentar

    1. Sma-sama belajar, Mbak. Saya juga terus belajar, karena sering melakukah hal sama.

    1. Ke Tias Tatanka di 081906311007.

  1. Wow, terlambat tulisan ini muncul. Jadi gak bisa eksplore kemaren. Tugasnya sudah selesai. Tapi akan jadi catatan indah untuk tulisan selanjutnya.
    Makasih ilmunya bang.

    1. Saya mneulis ini bukan untuk Mas menang lomba. Siapa tahu bermanfaat ke depannya.

  2. Jadi cerita fiksi pun harus melalui riset ya, biar nggak cacat logika? Lalu bagaimana dengan cerita bergenre fantasi, haruskah melalui riset juga? Atau kita bisa bebas berkhayal sesuka hati tanpa riset.

    1. Sepanjang yang saya tahu, JK Rowling dengan Harry Potter itu melkukan riset, bahkan hingga ke negara-negara Eropa Timur. Risey itu membantu imajinasi kita.

  3. Terima kasih ilmunya, Mas.

    1. Alhamdulillah. Nuhun sudah mmpir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==