Sebuah lagu gajelas tapi sarat doa dan harapan. Siang itu kami berburu duren di Baros, Serang. Aku makan juga, meski tidak banyak. Cuma mencicipi beberapa biji dari tiga butir durian yang dibeli. Malamnya hubby tidur agak cepat, aku agak khawatir sebenarnya. Jadi aku doain sambil memijatnya. Sepanjang aku menyanyi sih, hubby tertidur. Hahaha.

Lalu aku merasa mual. Jangan menuduh hamil, ya, karena aku baru selesai haid.
Rasa mual itu membuat aku segera duduk, lalu berdiri hendak ke toilet. Tapi dunia seperti berputar. Aku keluar kamar, bertahan tidak jatuh. Aku duduk di anak tangga di ruang tengah. Dua anak gadis sedang di rumah, segera memeriksa kondisiku. Keringat dingin mulai keluar. Aku sempat menghambur ke toilet dan muntah.

Anak-anakku menyarankan aku ke IGD. Aku menimbang-nimbang kondisiku, perlu tidak. Si bungsu memeriksa tekanan darahku. Hasilnya 126/95. Pusingku masih terasa, juga mual yang makin hebat. Aku menyerah, oke, ke IGD. Sulungku langsung minta aku berganti baju karena bajuku basah kena keringat yang terus mengucur. Alhamdulillah ganti baju masih sanggup kulakukan sendiri. Lalu sulungku memakaikan sweater dan kerudung.

Si bungsu memberitahu ayahnya, dan meminta tenang takut kaget dibangunkan dengan berita tak enak. Tapi aku tahu hubby, insyaallah beliau realistis, jadi nggak baperan.


